Warga Siap Lestarikan Sejarah Lewat Kegiatan Bebersih Situs Pejambon

177

pejambonCirebon, Demosmagzcom – Cirebon memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih bisa ditemukan, dilihat, dan disentuh. Terlepas dari peninggalan masa sesudah masuknya Islam atau sebelum masuknya Islam. Tidak sedikit juga peninggalanpeninggalan sejarah tersebut tidak diperhatikan atau bahkan diketahui keberadaannya oleh para peneliti sejarah sendiri, tidak disadari oleh para keturunan maupun masyarakat umum. Salah satu peninggalan sejarah penting yang tidak disadari itu adalah sisa-sisa artefak sejarah yang masih ada, berasal dari masa pra Islam. Lebih tepatnya, masa di mana agama Sanghyang, Hindu, dan Budha sedang dianut. Ialah arca-arca yang berada di situs Pejambon.

Situs Pejambon awalnya masuk di wilayah Blok Pejambon Lor, Kelurahan Pejambon, Kecamatan Cirebon Selatan. Namun, pada tahun ini, Pejambon masuk Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tinggal menyisa 25 arca yang masih tersimpan di sebuah bangunan kecil dan permanen, yang didirikan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, sekitar 2001.

Awalnya, arca-arca ditemukan di pinggir sungai pada 1960-1970, namun seiring dengan waktu dan banyak peristiwa terjadi, arca-arca tersebut terkumpul menjadi satu dalam satu bangunan. Meski berasal dari beberapa waktu atau zaman yang berbeda. Permasalahan pertama yang akan diangkat adalah jumlah arca yang terus berkurang setiap tahunnya. Pada awalnya ditemukan lebih dari 80 arca sejak peralihan Orde Baru. Diperkirakan arca-arca tersebut mengalami pengurangan, akibat dari apakah itu dipindahkan, dicuri atau sengaja dihilangkan dan dihancurkan.

Menurut beberapa narasumber, arca-arca yang ditemukan di sepanjang sungai yang ada di wilayah Pejambon itu, oleh masyarakat setempat lebih dikenal sebagai situs Watu Semar. Terlepas dari penamaan si tokoh Semar sendiri masih dipertanyakan, karena belum ditemukan arca yang begitu mirip dengan “sosok Semar”, dan penamaan ini harus dibuktikan oleh para ahli lebih lanjut, agar ke depannya bisa diberi nama yang sesuai. Terdapat koleksi tiga arca yang diberi keterangan dari Pejambon di Museum Sri Baduga Bandung ditulis berasal dari zaman Megalitikum, arca-arca tersebut dinyatakan sebagai figur nenek moyang atau leluhur. Namun, setelah dikonfirmasi, arca yang berada di Museum Sri Baduga ternyata arca replika. Jadi kemungkinan besar arca-arca yang “asli” masih berada di situs Pejambon, Cirebon saat ini dan berada di beberapa tempat, entah berada di mana.

Permasalahan yang kedua adalah, bangunan yang didirikan di atas tanah pemerintah kabupaten ini tidak terurus bahkan terabaikan. Kondisi kaca-kaca jendela yang berantakan dan membahayakan, kemudian kondisi arca itu sendiri mengalami pengrusakan secara orisinalitasnya dan kesimpang-siuran sejarah arca itu sendiri. Salah satu kesimpang-siuran cerita mengenai arca adalah menyebut beberapa arca- arca yang berasal dari era pra Islam tersebut sebagai satu karya seni rupa seorang “seniman” bernama Pak Cayat yang berasal dari Pejambon. Dengan ini, kami atas nama Pemuda-Pemudi Cirebon Peduli Situs Pejambon akan membuat sebuah kegiatan “Bebersih Situs Pejambon”. Pemuda-pemudi ini berasal dari berbagai komunitas yang ada di Cirebon baik kabupaten maupun kota dan kota lain, seperti Bandung dan Yogyakarta.

Rencananya pada tanggal 26 Juni 2016, hari Minggu dimulai pukul 09.00 WIB sampai waktu berbuka puasa, sekelompok pemudapemudi dari beberapa komunitas peduli situs Pejambon ini berkumpul untuk melakukan bersih-bersih dan menata ulang kondisi arca-arca yang memprihatinkan. Kegiatan ini diisi dengan perbaikan jendela, kaca jendela, cat tembok, instalasi ulang posisi arca lengkap, pemotongan rumput, pengecatan besi dan kayu, penambahan papan informasi setiap arca yang tersisa, pemajangan foto-foto arca lengkap dengan informasi yang edukatif, pemasangan plang petunjuk situs yang sebelumnya tidak ada, perbaikan genteng-genteng yang bocor, dan juga kegiatan lain di luar bersih bersih adalah performa pantonim oleh seniman pantomime dari Bandung yaitu Wanggi Hoed yang mengungkapkan kepedulian pada situs ini, juga ada pembacaan puisi oleh beberapa orang termasuk Sinta Ridwan, Nufarian Dewantara, Zulvi Romli, permainan musik tradisi oleh kelompok musik Gong Renteng Ki Muntili Cirebon, Saka Ethnic, pun ada juga orasi budaya oleh seniman/akademisi Bakrie Jethro, dan diskusi sejarah oleh Zaenuddien dari komunitas Purwa Daksina.

Tujuan utama dari kegiatan Bebersih Situs Pejambon ini selain membersihkan, mengamankan dengan memasang teralis pada jendela dan membuat nyaman tempat penting penyimpanan sejarah dengan membuat semacam pameran foto, display arca yang dikreasikan memakai batu koral papingblok, juga direncakan dibikin seperti sebuah museum kecil yang menarik. Dengan keberadaan papan-papan dan keterangan informasi edukatif mengenai arca dan sejarahnya. Selain itu, tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk mengabarkan sebuah berita penting yaitu kondisi peninggalan sejarah masa pra-Islam yang terabaikan, usaha perbaikan nama dan gosip yang beredar mengenai sejarah arca itu sendiri di mata warga sekitar. Dan berupaya merangkul kepedulian masyarakat termasuk pemuda-pemudi di Cirebon untuk menjaga dan melestarikan peninggalan leluhur kita sendiri.

Kegiatan ini akan mendatangkan warga sekitar, beberapa tokoh, membagikan zine yang berisi wacana tentang situs dan arca Pejambon, beberapa komunitas dan penggiat dari Losari, Ambulu, Lobunta, Gegesik, Bedulan, Pejambon, Tengah Tani, Plered, Pondok Asem, Sumber, Perpustakaan Niskala Senja, HC Punk, Sinau Art, komunitas peduli lingkungan hidup, komunitas graffiti dan street art, Artkillery, beberapa akademisi dari kampus-kampus, Plumbon, Jamblang, Karang Taruna Pejambon, Gunung Jati, musisi metal, mahasiswa DKV CIC, dan beberapa wilayah di Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sebagai bentuk kepedulian pada situs Pejambon ini.

Kegiatan ini murni didanai oleh dana kolektif dan sumbangan pribadi panitia. Alamat lengkap bangunan situs Pejambon atau warga setempat sering menyebutnya Watu Semar berada di tepi jalan Ki Gede Tapa.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY