Tidak Ada Anak Yang Bodoh, Lalu Perlukah Rangking Dalam Rapor?

470
Siti Ade Fadliyah (penulis pojok massa)

 

Pojok Massa, Demosmagz.com – Bagi para siswa dan orang tua, bulan desember merupakan waktu yang membuat mereka waswas. Karenanya, di semester ganjil ini biasanya sekolah-sekolah akan mengumumkan hasil belajar siswa atau yang dikenal dengan pembagian rapot.  Hasil belajar secara keseluruhan akan ditampikan dalam rapot, berikut dengan urutan rangkingnya jika sekolah masih menggunakan sistem rangking

Berdasarkan Kurikulum 2013 ataupun Kurikulum KTSP, memang sudah tidak ada lagi rangking yang tertera di dalam rapor. Akan tetapi masih ada guru yang menggunkan sistem rangking dengan tujuan agar siswa yang lain ikut termotivasi untuk belajar lebih keras lagi. Tetapi, masih efektifkan sistem rangking untuk menumbuhkan siswa agar lebih giat dalam belajar?

Ada guru yang mengurutkan rangking 1 sampai 40 (misalnya jumlah siswa 40). Atau ada guru yang mengumumkan 10 besar peringkat terbaik dengan persembahan hadiah dari sang guru. Tidak jadi masalah jika siswa yang memperoleh urutan rangking di tengah-tengah  karena ia merasa aman dari kecaman guru, orang tua, dan teman-temannya. Lalu bagaimana dengan siswa yang memperoleh rangking terbawah, kemungkinan akan di cap bodoh oleh teman-temannya. Apalagi jika siswa tersebut merasa rendah diri karena tidak bisa (bodoh), bisa-bisa ia melampiaskannya untuk menjadi anak yang nakal.

Kemudian, dampak dari siswa yang telah memiliki peringkat tertinggi akan rawan terhadap stress jika tiba-tiba memperoleh nilai rendah bahkan cenderung merasa gengsi ketika tidak bisa meneruskan ke sekolah atau Perguruan Tinggi favorit.

Tujuan dari sistem rangking adalah maksud mulia, Harapannya siswa dapat termotivasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi di semua mata pelajaran. Dengan begitu, siswa akan belajar dengan keras.

Akan tetapi, masalah belajar  itu beraneka ragam. Bagi siswa yang memiliki fasilitas belajar di rumah lengkap, atau orang tua memberikan fasilitas les akan lebih mudah untuk memenuhi itu. Berbeda dengan siswa yang kurang memiliki waktu belajar. Misalnya karena harus membantu orang tuanya dalam mencari uang dan sebagainya. Dia akan memiliki kesulitan untuk belajar apalagi untuk mengejar nilai-nilai pelajaran yang tinggi. Lalu apakah sistem rangking itu adil bagi siswa ?

“Sistem ranking itu adalah sistem yang tidak adil dan berbahaya bagi perkembangan konsep diri anak karena yang menjadi patokan selalu nilai rata-rata…. Jika sebuah kelas terdiri dari 40 anak, maka semakin rendah rankingnya berarti semakin bodoh anak itu. Anak berpikir secara linier dan cenderung akan menerima kenyataan bahwa ia bodoh karena berada di ranking bawah,” tulis Adi Gunawan dalamApakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan? (2005).

Dikutip dari buku dan penulis yang sama, menyebutkan bahwa “cara paling adil dan baik mengukur prestasi anak adalah dengan membandingkan prestasi saat ini dengan prestasi sebelumnya.”

Jika kita membandingkan dengan Negara yang memiliki kualitas pendidikan terbaik, yaitu Finlandia. Di sana, tidak ada rangking, agar tidak adanya diskriminasi, bahkan tidak ada kelas unggulan. Penilaian disana berdasarkan bagaimana mereka mengerjaan tugas, bukan pada benar atau salahnya hasil. Karena menurut teori Multiple Intelligence, tidak ada anak yang bodoh dalam dunia pendidikan.  Anak memiliki kemampuan pada aspek-aspek yang berbeda. Dan akan lebih sulit jika siswa harus menguasai semua mata pelajaran.

Di Finlandia, siswa disana bisa sekolah kemana saja, karena tidak ada kriteria penilaian tertentu untuk masuk ke sekolah yang diinginkan. Selain itu, tidak ada istilah sekolah favorit karena semua sekolah sama. Yaitu dengan kurikulum yang konsisten dan melibatkan orang tuanya dalam merumuskan.

 

Penulis adalah Siti Ade Fadliah (Mahasiswa Tingkat 4 FKIP Unswagati Cirebon)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY