Teater Dugal, Mementaskan Teater Realis di Cirebon

43

Cirebon, Demosmagz.com – Teater Dugal, merupakan salah satu bidang yang ada di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Seni dan budaya, Unswagati Cirebon. Teater Dugal sudah ada sejak tahun 1997 yang awalnya digagas oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Unswagati, kemudian oleh pendirinya difusikan ke dalam UKM Seni dan Budaya tahun 1999.

Pengambilan nama teater “dugal” berasal dari kata yang mengartikan sebuah kemarahan (emosi), atau adapula yang mengartikan tidak mau diatur, pembangkang, atau dalam bahasa cirebon sekarepe dewek. Nama “dugal” dimaknai sebagai sikap kegelisahan, ekspresi jiwa akan kreativitas seni dalam berkarya.

Dalam perkembangannya, teater dugal berusaha mencoba untuk mencari, menggali, dan mengembangkan kreativitas seni khusunya di bidang seni peran. Demi menjaga eksistensinya, teater dugal sedikitnya menampilkan satu naskah lakon dalam setahun. Adapun teater dugal pernah pentas di beberapa daerah di luar Cirebon, yaitu Tegal dan Indramayu. Namun biasanya, teater dugal melaksanakan pentas di kampus atau sekitar kampus.

Teater dugal mengangkat cerita-cerita keseharian atau disebut juga teater realis, yakni kisah nyata yang di angkat di atas panggung. Menyangkut cerita-cerita yang masih hangat terjadi di masyarakat saat ini. “kami cenderung merupakan teater realis, dialog di teater realis biasanya lebih susah jika dibandingkan dengan teater non realis. Selain itu set (artistik) nya juga lebih real. Makanya, jarang ada yang mementaskan teater realis khusunya di Cirebon” Ujar Nuramaliyah Afifah, salah satu anggota UKM Seni dan Budaya. Selain itu, teater dugal selalu menampilkan musik latar secara live.

Persiapan yang dilakukan biasanya minimal 6 bulan, diawali dengan membedah beberapa judul cerita, lalu dipilih dengan beberapa pertimbangan ataupun disesuaikan dengan kemampuan/kondisi, mana yang lebih cocok agar pesan lebih tersampaikan, kemudian observasi sesuai kondisi masyarakat sekarang dan barulah memulai latihan dan segala persiapan lainnya. Sebuah pertunjukkan teater ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, kalau di istilahkan“siang kuliah, malam latihan, bahkan hingga larut menuju pagi” hal demikian sudah akrab bagi mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di teater dugal.

“Kalau saya, dari SMP terus SMA sampai sekarang kuliah sudah hampir empat tahun, emang suka teater, suka seni peran. Meskipun ada hal-hal yang di korbankan dan dilewatkan seperti ketika ingin ada pementasan, waktu buat maen bareng temen-temen nggak ada, jauh sama temen-temen selain di lingkungan yang gabung sama teater. Karena kita fokus latihan, biasaya sampe tengah malam.” Ujar Nuramalia yang juga sebagai salah satu pemain teater dugal di tahun ini.

Menurutnya, adapun tips untuk pemeran lakon agar pertunjukkan teaternya sukses adalah memahami alur cerita, perannya, dan dibaca setiap hari. Dalam teater, memang memiliki penikmat teater tersendiri, akan tetapi teater dugal terus mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menonton teater, sebab selain sebagai hiburan, bisa untuk menambah pengetahuan, bahan perenungan dan ada pesan-pesan tertentu bagi kehidupan. “misalnya saja dari dialog-dialog pemain, itu bisa jadi cerminan hidup, ada banyak dialog yang bisa menginspirasi” ujarnya.

Teater Dugal produksi ke XXIV, mempersembahkan “Kadung Kait”

Di bulan Agustus ini, tepatnya tanggal 25 dan 26 Agustus 2017, teater dugal menggelar seni pertunjukkan teater “Kadung Kait” karya Budi Yasin Misbach. Bertempat di auditorium kampus Unswagati Cirebon dengan tiket OTS Rp 12.000.

Kadung Kait menceritakan tentang sepasang suami istri yang baru menikah, kehidupan mereka sangatlah sederhana dan cenderung pas-pasan. Mereka tinggal di rumah pemberian orang tua Enah, sang istri. Karena kekurangannya itulah yang membuat orang tua Enah selalu menyudutkan Karyo, suami dari Enah. Lika-liku kehidupan mulai muncul di kehidupan mereka.

“kadung kait juga menyinggung soal narkoba, dimana sekarang ini sedang hangat diperbincangkan bahkan hingga tingkat nasional. Adapun pesan dari cerita ini adalah sekurang-kurangnya kita, ataupun melakoni hidup yang pas-pasan sekalipun jangan sampai terjerumus ke dalam pekerjaan yang salah.” Ujar Nuramaliyah Afifah yang juga sebagai sutradara di pementasan kali ini. (ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY