SMK Caruban Nagari, Sekolah Gratis Berbasis Pesantren

499

photo by Riki
Cirebon, Demosmagz.com – Pengentasan kemiskinan bukan melulu dengan memberikan materi secara langsung berupa bantuan-bantuan fisik. Berawal dari melihat banyak kondisi anak-anak yang ingin bersekolah dan pesantren namun tidak mampu, Raden H. Tosin dan Sultan Kesepuhan serta beberapa orang yang  menyisihkan penghasilannya  dengan mendirikan SMK berbasis pesantren secara gratis.

Tahun ini, terdapat  115 siswa dengan presentase siswa perempuan 40% dan laki-laki 60%. Sejak 2007 SMK dan Pesantren berdiri dibawah naungan yayasan Gedeng Tapa jumajan jati, minggu (04/09) saat pertemuan dengan orang tua siswa, SMK dan pesantren tersebut menjadi tanggung jawab penuh Sultan Kesepuhan, Arief Natadiningrat  dengan harapan agar ada peningkatan mutu dari sekolah tersebut.

“Sultan tadi sudah keliling pesantren, masih ada kekurangan baik fisik maupun non fisik. dengan adanya sultan Arief kesini, menambah semangat lagi untuk kita, karena ada pendukung yang lebih kuat lagi.” Ucap Azuaranas,kepala sekolah SMK Caruban Nagari.

Sistem pendidikan yang diterapkan sekolah ini terpadu, artinya di kurikulum SMA terdapat pelajaran-pelajaran agama dan terdapat praktek-praktek terkait jurusan ketika diluar jam pelajaran. Jurusan di SMK ini ialah Teknik Kendaraan ringan atau Otomotif.

“Disini SMK berbasis pesantren, jadi yang bersekolah di SMK harus mondok (pesantren) dan yang mondok disini harus SMK disini.” Ucapnya.

Para santri atau siswa tidak dibebankan biaya, baik biaya sekolah, biaya pesantren dan makan sehari-hari. Untuk biaya operasional sekolah, diperoleh dana  BOS dari pemerintah, dan untuk biaya-biaya lainnya berasal dari sumbangan yang tidak mengikat.  Harapannya, berangkat dari niat para siswa atau santri yang ingin belajar, meskipun orang tuanya tidak mampu, setelah lulus mereka bisa bersaing dengan life skill yang dimiliki dan juga memiliki bekal agama yang bagus.

“Anak-anak setelah keluar dari sini selain agamanya bagus, tapi mereka mampu bersaing minimal ketika di perusahaan karena mereka dibekali dengan life skill.” Ujarnya

Keunggulan dari sekolah tersebut ialah siswa atau santri betul-betul dibekali dengan ilmu agama, seperti dilaksanakannya sholat dhuha berjamaan setiap hari, mengaji setiap hari, belajar bahasa Arab, dan belajar kitab-kitab kuning serta materi agama lainnya. Selain itu, banyak pula siswa-siswa yang memiliki prestasi, seperti juara 1 setiap tahunnya memperoleh beasiswa Laziswa, juara 2 bulu tangkis dalam Pekan Olahraga Daerah di Bandung, Juara lomba Hadroh dan lainnya.

Adapun visi  dari sekolah tersebut adalah  menjadikan sekolah unggulan yang menghasilkan tamatan berkualitas serta melahirkan teknisi kendaraan ringan yang kompeten dan mandiri melalui pengembangan iptek dan imtaq.

Syarat untuk masuk pesantren atau sekolah ini adalah siswa lulusan SMP atau sederajat dengan membawa SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) atau Surat Jaminan Sosial, dan Kartu Keluarga. Namun, siswa yang diterima tidak lebih dari dua kelas atau 80 orang per angkatan. Dikarenakan kapasitas yang menyumbang tidak lebih dari itu. Menurut Kepsek yang sudah turut andil sejak awal berdiri, mengaku senang karena bisa mengajar anak-anak yang istimewa meskipun terdapat keluh kesah yang dialami.

“Karena anaknya istimewa, maka kita juga dituntut lebih istimewa. Senengnya bisa mengabdi, mengajar anak-anak yang tidak mampu dan yatim,Insya Allah sekaligus beramal.” Ujar Kepsek.

Menurutnya, alumni-alumni sudah banyak yang bekerja dan mendirikan usaha, serta adapula melanjutkan kuliah dengan jalur beasiswa dan  melanjutkan studi ke luar negeri.

Saat ini, kebanyakan santri atau siswa berasal dari gunung jati dan Losari, namun adapula yang berasal dari Riau, Garut, Tasik, madura, dan Jakarta. Menurut salah satu siswi asal Balad, mengaku senang bisa bersekolah dan tinggal di pesantren karena keinginannya sendiri.

“Pengen sendiri kesini, karena suasananya enak, adem, pemandangannya bagus. terus pengen belajar mesin juga. “ ujar Miftahu Rohmah.

Menurut siswi yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut mengaku betah disana, karena guru-gurunya pun menyenangkan ketika mengajar. SMK dan Pesantren tersebut juga merupakan Lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) Ki gedeng tapa jumajan jati dinsos provinsi Jabar.(ade)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY