Situs Pejambon, Persembahan Dari Cirebon Untuk Dunia

326


Cirebon,  Demosmagz.com – Zaman semakin berkembang, waktu terus berputar maju. Peradaban alay, sambalado, sakitnya tuh disini, atau biasa disebut generasi virtual merebak luas. Efek domino yang diakibatkan akhirnya lupa akan peninggalan sejarah, entah cerita atau hasil karya berupa situs.

Demikianlah sebut Bakrie Zero dalam orasi budayanya di acara ‘Bebersih Situs Pejambon’. Kata dia peradaban saat ini menandakan yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai Its end Ef an Era. Dimana manusia hanya menjadi boneka-boneka yang menyembah berhala berupa uang dan materi lainnya.

“Padahal, Cirebon memiliki sejarah luar biasa yang mengandung filosofi. Tidak sedikit artefak masih bisa ditemukan, dilihat dan disentuh.  Termasuk situs pejambon ini, yang sayangnya kurang mendapat perhatian, bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh para peneliti sejarah itu sendiri, dan juga masyarakat pada umumnya, ” ujarnya kepada demosmagz, Minggu (28/06)

Lanjut Pria yang akrab disebut Syech Magelung Sakti, sekaligus dosen seni rupa ini menuturkan terlepas dari kesimpang siuran sejarah, karena masih minim bahan yang bisa dijadikan acuan sebagai kajian mengenai Situs pejambon ini ada beberapa hal yang menarik perhatian.

“Pertama soal artefak atau arca yang berkurang setiap tahunnya. Semula berjumlah lebih dari 80 sekarang tersisa tinggal 25 arca” tuturnya.

Selain itu, apabila melihat dan menengok keberadaan Situs pejambon ini sangatlah memprihatinkan, tidak terawat. Memandang bangunan dan arca-arca yang ada begitu memilukan, miris sekaligus mengerikan.

“Kondisi bangunan kumuh, kaca pecah, arcanya di corat-coret, sehingga menghilangkan nilai seni orisinilitasnya. Ini yang menjadi tanggung jawab bersama, untuk itu solusinya yaitu dengan merevitalisasinya,”ucapnya.

Awal mula terselenggara kegiatan ini, di inisiasi atau diprakarsai oleh seorang wanita muda, cantik jelita yang juga menjadi pencerah bagi semuanya.

“Sosok Sinta Ridwan itu yang kemudian menghidupkan semangat dan gairah terhadap keberadaan arca di situs Pejambon yang berda di Kelurahan Pejambon Kecamatan Sumber ini,” kata Bakrie.

Sinta Ridwan, yang merupakan salah satu penulis wanita berbakat asli putri daerah ini mula-mula muncul rasa kepedulian pada saat mengunjungi Musium Sri Baduga Bandung. Di dalan Musium tersebut terdapat 3 replika arca yang disebutkan berasal dari zaman megalitikum dan berada di Pejambon, Cirebon.

“Arca asli diterangkan ada di Cirebon. Begitu melihatnya saya antusias sekali untuk segera mengunjunginya,” terang Wanita berkacamata ini kepada Demosmagz.

Akhirnya, pada bulan Mei 2016 beserta teman-temannya Ia mengunjungi Situs Pejambon atau yang biasa disebut oleh masyarakat Situs “Watu Semar”.

“Awal kesini kondisinya begitu memprihatinkan. Kalau ibaratkan seperti makam nenek moyang yang tidak terurus menunggu anak cucu cicitnya datang untuk melongok dan membelai, dan merawatnya, dari situlah kemudian ada kepedulian untuk melakukan bebersih dan mengajak kawan-kawan dari berbagai komunitas” tuturnya menjelaskan.

Kegiatan bebersih Situs pejambon merupakan langkan awal, dan bukan terahir, keberlanjutan untuk memperkenalkannya akan terus dilakukan.

Kegiatan bebersih pun berjalan dengan lancar dan hikmat. Walaupun dalam keadaan puasa, semangat untuk merevitalisasi sekitar area dan bangunan tempat menyimpan 25 arca dilaksanakan dengan seksama. Alunan musik gamelan, suara-suara nyanyian jiwa dari seniman Cirebon mengiringi acara bebersih Situs peninggalan sejarah yang merupakan kearifan lokal Cirebon.

Dilihat dari potensi, Situs Pejambon merupakam potensi yang diabaikan. Apabila dirawat, dijaga, dan diperkenalkan bisa lebih menarik minta pengunjung wisatawan ke Cirebon.

“Terserah pemerintah mau apain aja potensi ini. Kita hanya peduli terhadal peninggalan Sejarah yang ada di Cirebon,”ucap Sinta.

Memang, partisipasi dari seluruh element sangat diharapkan dalam merawat dan memperkenalkan Situs pejambon. Adapun untuk mengetahui rupa arca dan artefak yang ada, serta filosofi, dan sejarah lengkapnya langsung saja mengunjungi situs tersebut. dengan berkunjung dan merawatnya merupakan bentuk kepedulian terhadap sejarah. Bangsa besar, bangsa yang tidak melupakan sejarah. Begitulah pepatah kita sering mengatakan. Cinta Budaya, Cinta Sejarah, Cinta Caruban Nagari. (Epri)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY