Seminar Seni Dan Kebudayaan Cirebon Tutup Acara Gotrasawala

281


Demosmagz.com – Hari terakhir pagelaran gotrasawala menggelar seminar kebudayaan mengenai Cirebon masa kini di salah satu hotel cirebon,  yang menghadirkan beberapa  narasumber diantaranya ketua bidang komunitas dan jaringan badan perfilman Indonesia Embie C Noer , ketua lembaga bahasa lan sastra Cerbon Nurdin M Noer dan akademisi yakni pengajar ISBI bandung Suhendi Afriyanto.

Ada beberapa pernyataan menarik  yang disampaikan oleh narasumber pada seminar yang dihadiri oleh perwakilan kerajaan-kerajaan nusantara, budayawan dan akademisi ini. Embie C noer bertutur dalam presentasinya “bahwa saat ini kita berada dalam kondisi budaya kuantitatif yang menghasilkan kondisi transaksional di segala bidang” korupsi adalah imbas dari budaya kuantitatif tersebut maka kita selaku budayawan semestinya mulai bergerak untuk melakukan perubahan budaya tersebut.

Beliau menjelaskan semestinya kita harus mengembalikan pondasi budaya menjadi budaya kualitatif yang sarat akan nilai dan kebenaran. Sementara Nurdin M noer dalam presentasinya menjelaskan bahwa manusia Cirebon adalah masayarakat yang merasa lebih merdeka ketimbang daerah-daerah bekas kerajaan lain, bisa digolongkan pada manusia yang berkarakter bebas terbuka, namun religius. Mereka telah berhasil memadamkan sisa-sisa feodalisme yang pada umumnya masih melekat pada daerah bekas kerajaan, sehingga meraka tak perlu kaku saat menghadap sultannya.

Berbeda dengan Suhendi Afryanto yang menjelaskan mengenai eksistensi dan dinamika seni pertunjukan Cirebon, menurut beliau bisa dikatakan bahwa Cirebon (ciayumajukuning) merupakan sumber rujukan seni pertunjukan didaerah lain baik dijawa barat maupun diluar jawa,” beliau mencontohkan salah satu nyayian daerah di Halmahera (Maluku Utara) merupakan bentuk penghormatan kerajaan Ternate terhadap Cirebon dalam membantu melawan penjajah saat itu”.

Menurut beliau Cirebon yang berasal dari kata caruban atau percampuran menghasilkan seni dan kebudayaan yang terus berkembang dan menjadi salah satu yang menjadi pusat budaya, saya berharap Cirebon bisa seperti Daerah istimewa Yogyakarta yang diberikan otomi untuk mengatur seni dan kebudayaannya sendiri”. (rangga)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY