Sekolah Harus Didik Anak Nakal Dengan Beragam Cara

170

Demosmagz.com – Menghadapi siswa yang nakal baik di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah merupakan tugas dari orang tua, guru, dan lingkungan. Label siswa nakal kerap kali menjadi sorotan dan bullyan sekitar. Cara menghadapinyapun beragam, ada yang menghalalkan hukuman keras atau ringan, adapula yang menghadapinya dengan lembut bahkan justru diberikan hadiah. Menghadapi siswa yang nakal bukan perkara mudah, karena kondisi tersebut akan mempengaruhi bagaimana nanti siswa ke depannya. Pilihan dari sekolah yang terakhir adalah dengan memindahkan atau mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah.

Data yang dihimpun dari Kemensos RI (2015), sebanyak 2,3 juta anak putus sekolah. Kemudian sebanyak 5.988 anak berkonflik dengan hukum dari total anak sekitar 3,6 juta anak di Indonesia.  jenis konflik tersebut diantaranya NAPZA, lklantas, perkelahian, penganiayaan, pencurian, dan paling banyak masalah pelecehan seksual yakni sebanyak 45%.

Kurang lebihnya seperti itu gambaran kenakalan anak yang  serius, namun jika siswa tidak sampai terlibat kasus kriminal apakah pantas di sebut nakal ? misalnya saja jika ada siswa yang usil mengerjai temannya, tidak mendengarkan saat guru menjelaskan, mengabaikan nasihat, membuat onar di kelas, tidak mendapatkan nilai bagus, melanggar tata tertib sekolah dan sebagainya. Tindakan tersebut bisa saja dipengaruhi atau termasuk dalam hal-hal sebagai berikut (dikutip dari keluarga.com) :

  1. Anak yang memiliki kontrol diri yang lemah
  2. Anak yang kurng kasih sayang orang tua
  3. Anak yang kedua orang tuanya tidak hrmonis atau bercerai
  4. Anak yang menjadi korban dari kenakalan orang lain, anak yang mendapat tekanan dari orang tua
  5. Anak yang mengalami kekerasan dari lingkungan keluarga, dan anak yang salah bergaul

Menyikapi persoalan siswa yang nakal menjadi tugas penting kita semua, namun simpul yang menonjol dalam mengelola siswa ialah melalui pendidikan. Ada satu cerita dari banyak cerita serupa perihal dikeluarkannya anak dari sekolah dengan alasan nakal. Ada orang tua siswa yang merasa kecewa ketika anaknya dikeluarkan dari sekolah Dasar swasta di Sragen.

Kalau menurut Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugirasi, ia mengecam hal itu. Menurutnya, itu bisa menjadi preseden buruk bagi anak-anak nakal dan bodoh untuk mendapatkan hak pendidikan.

“Kalau anak bodoh dan nakal dikeluarkan paksa, buat apa didirikan sekolah. Namanya juga anak-anak, kalau pun nakal mestinya dididik dan dibina katanya nakalnya sejak kelas I, kenapa pula masih dipertahankan sampai kelas V ini sudah keterlaluan,” tegasnya dilansir dari joglosemar.

Lebih sederhana lagi, menurut akademisi di University of South Australia, anak-anak tidak boleh dihukum dengan berdiri di sudut ruangan kelas di sekolah, karena ini adalah penyalahgunaan hak asasi manusia.

Akan tetapi itu bukan larangan menghukum anak dengan cara tersebut, tetapi seharusnya guru tidak ‘mengandalkan mereka’ sebagai solusi pertama untuk anak nakal karena mereka (anak) tidak mengatasi masalah tersebut.

Dr Sullivian merekomendasikan agar guru melakukan pendekatan positif, melakukan pencegahan dan bagaimana kita membuat anak terlibat.

“Anda membangun hubungan dengan anak-anak, Anda memperlakukan mereka dengan adil, Anda sering berbicara dengan mereka, Anda tidak menyebabkan eskalasi hal-hal kecil (dan) Anda bernegosiasi dengan mereka,” dilansir dari dailymail.

Kalau kita masuk ke pendidikan non formal, seperti di Pesantren, ada banyak cara yang ditempuh oleh pengurus pesantren demi mendidik para santrinya selam 24 jam dalam pengawasan. Sistem peraturan yang berlakupun berbeda-beda.

Ada yang unik dari beberapa kiayi dalam menghadapi santri yang nakal, yakni dengan memanjakan para santri. Dilansir dari laman tirto, KH Ahmad Umar Abdul Mannan, pengasuh Pondok pesntren Al-Muayyad, Solo, menjamu makanan di kediamannya dan nama-nama santri yang nakal di doakan setiap malam secara khusus, bukan di keluarkan dari pondok.

KH Ali Maksum, penerus pesantren Al Munawwir, ia dekat dengan seluruh santri dan mengajak jalan-jalan santri nakal sampai memintanya berkunjung ke kediamannya. Meminta santri memijit dan dijamu makan-makan. Kemudin KH Baidlowi Syamsuri, pengasuh pondok pesantren Sirojuth Tholibin, Jawa Tengah, mengundang santri nakal, memberi wejangan, dan memintanya untuk makan di kediamannya.

Cara-cara demikian merupakan pendekatan dengan santri nakal, dengan Diajak bicara baik-baik, sampai si santri merasa bersalah dan akhirnya mau mengubah diri.

Hal-hal demikian adalah secuil contoh bagaimana memperlakukan anak yang kerap dianggap nakal, sejatinya menjadi tugas bersama untuk memperbaikinya. Salah besar jika kita menjudge bahwa anak itu nakal dan menerjemahkannya seenak udel sampai-sampai memutuskan harapan dan cita-cita dari si anak tersebut.

Dulunya di Cap Nakal, Kini Terkenal Sukses

  1. Jangan sangka, anak-anak yang dulunya nakal justru menjadi tokoh dunia, seperti Jhon Lennon, karya-karya di bidang musik melegenda mendunia. Dulunya, dilansir dari BBC, saat berusia 15 tahun sempat dihukum karen perkelahian di kelas dan melakukan sabotase, hukuman dari sekolah dijatuhkan kepada Lennon termasuk mengganggu dan mendorong temannya, dan ia merupakan siswa yang sangat acuh.
  2. Kemudian Adam Khoo, seorang pengusaha muda sukses asal Singapura, dulunya nakal dan bahkan tercatat sebagai siswa terbodoh di sekolah di Singapura, bahkan kerapkali di tolak banyak sekolah. Dia bersekolah di tempat sekolah yang rata-rata siswanya berprestasi rendah. (dikutip dari blog terapi-diri-praktis)
  3. Dibawah ini beberapa contoh dari Keberhasilan yang diraih, padahal dulu di cap anak yang nakal dan bodoh, (referensi dari kumparan.com)
  4. Newton, Ia sempat dikeluarkan oleh keluarganya untuk menjadi petani, namun atas saran dari kepala sekolah akhirnya newton kembali ke sekolah dan lulus pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
  5. Albert Einstein: masa kecil dan remaja dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya).
  6. Thomas Alva Edison: saat kecil dianggap sebagai anak yang bandel, sulit diatur dan nakal. Bahkan oleh gurunya sudah dicap anak yang semi gila sehingga dikeluarkan dari sekolah
  7. Bill Gates: masa kecil dianggep kutubuku yang tidak mau tau urusan lainnya. Sulit diatur ,bandel dan sangat acuh. Ayahnya pernah melempari gelas di meja makan, karena ia bicara seenaknya sendiri dan cuma asik baca buku sambil makan.
  8. Steve Jobs: Steve kecil dikenal begitu nakal sampai orang tua dan pihak sekolah kehabisan akal untuk meredam kenakalannya. Jobs diketahui senang bermain dengan petasan sejak kelas tiga SD dan digunakan untuk mengerjai gurunya.
  9. HAMKA : terkenal nakal di seluruh kampung Padang Panjang, Sumatera Barat. Padahal ayahnya seorang ulama besar dan sejak kecil sudah alim.

Predikat siswa nakal bukanlah penyebab utama dari apa yang akan terjadi di masa depan bagi si anak tersebut. Melainkan dikarenakan bagaimana anak tersebut berusaha, belajar, dan tidak berputus asa. Semoga artikel ini bermanfaat.(Ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY