Sekolah 5 Hari, Bisakah Digabung Dengan Madrasah ?

95
foto : Muhammad Febriyanto

Demosmagz.com – Penerapan kebijakan Kemendikbud terkait sekolah 5 hari dibantah beberapa pihak lantaran khawatir akan menggerus sekolah madrasah diniyah. Namun Muhadjir Effendy menegaskan bahwa program tersebut bertahap sesuai kesiapan daerah masing-masing.

“Sesuai dengan pasal 9, pelaksanaannya bertahap. Dan sesuai saran dari MUI, akan dilakukan koordinasi dengan Kemenag untuk petunjuk atau pedoman pelaksanaannya,” ujar Muhadjir dalam pernyataan pers pada kamis lalu.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah 5 hari atau 8 jam sehari di sekolah bukan melulu berada di sekolah, melainkan dapat belajar di luar sekolah. Adapun sudah diterapkannya program tersebut melalui program PKK (Program Pengembangan Karakter) di 1.500 sekolah. Sisanya, akan bertahap.

Namun, kebijakan tersebut bisa mematikan ratusan ribu sekolah madrasah. Hal ini disampaikan oleh Aom Karomani dilansir dari laman NU. Menurutnya, secara historis bahwa madrasah sudah lama hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi besar. Utamanya di desa-desa, dimana sekolah dan madrasah saling melengkapi. Di pagi hari anak dipenuhi dengan pengetahuan umum dan sore hari fokus pada materi agama.

Hal serupa juga dikatakan oleh Aher, Gubernur Jawa Barat. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang full day school atau sekolah 8 jam, sehingga akan menjadi masalah. Disayangkan pula jika madrasah hilang. Sebab, madrasah berperan penting dalam membentuk karakter siswa berdasarkan kearifan lokal.

“Padahal (madrasah) diniah itu menjadi bagian cara kita membentuk generasi, cara melengkapi pelajaran yang ada di sekolah keagamaannya kurang, dimasukan ke diniah. Itu bisa menjadi revolusi mental,” ucapnya dilansir dari detiknews.

Kalau menurut menteri agama, Lukman Hakim Saifuddin dalam menyikapi kebijakan tersebut, bahwasanya konsep full day school dapat digabung dengan Pendidikan keagamaan di dalam pembelajaran 8 jam sehari.

“Mungkin, boleh jadi yang penting itu kan sampai sore tidak di hanya sekolah itu (formal). Bisa di sekolah, sisa waktunya belajar di pendidikan diniyah. Jadi pendidikan diniyah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sekolah itu,” ungkapnya dikutip dari jawapos. (ade)

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY