Rumah Sakit Oranje, Saksi Bisu Perjuangan Masyarakat Cirebon

328
RS Oranje

Cirebon, demosmagz.com – Pada masa penjajahan Cirebon kerap kali di cap sebagai daerah yang kotor dan menjijikan. Itu terlihat dari kurang adanya saluran pembuangan air limbah dari rumah tangga. Hal itu diperburuk dengan kotoran-kotoran  yang terendam air laut dan menimbulkan aroma yang busuk. Kelancaran sungai pun tergantung pada surut pasangnya air laut. Bahkan setiap tahun Cirebon selalu menjadi langganan banjir.

Ketika itu pemerintah Cirebon berupaya mengubah image Cirebon yang sudah kadung buruk dengan kebijakan-kebijakanya. Beberapa kebijakan itu adalah perbaikan sanitasi, perbaikan saluran air, sampai penghilangan genangan air limbah. Hal itu juga sebagai upaya menghilangkan malaria yang tengah menjadi hantu di Kota Cirebon. Pada akhirnya sebagai bentuk penanggulangan berbagai penyakit. Pemerintah Cirebon mendirikan sebuah rumah sakit di daerah Kesambi Cirebon pada tahun 1921 yang diberi nama Rumah Sakit Oranje.

Pada zamannya rumah sakit yang dalam bahasa belanda disebut Oranje Ziekenhuis terbilang rumah sakit mewah. Biaya pembuatanya mencapai lima ratus empat puluh empat gulden. Dana tersebut dihimpu dari pabrik-pabrik gula di seantero Cirebon juga para penderma. Rumah sakit ini benar benar berfungsi pada tanggal 1 September 1921 dibawah pimpinan dr. E. Gottlieb.

Ketika itu rumah sakit oranje memiliki fasilitas 33 tempat tidur yang terdiri dari ruang direktur, ruang tata usaha, ruang portir, ruang apotek, ruang poliklinik, ruang laboratorium, ruang kamar bedah, ruang dapur, ruang cucian, ruang generator listrik, kamar mayat, ruang zuster-huis, ruang hooftzuster-huis, asrama putri, ruangan rawat dengan kapasitas 133 tempat tidur yang terbagi menjadi 7 tempat tidur kelas 1, 16 tempat tidur kelas 2, 24 tempat tidur kelas 3, 56 tempat tidur kelas 4, 16 tempat tidur untuk penyakit setengah menular dan 16 tempat tidur untuk penyakit menular.

Menjelang penududukan Jepang pada Maret 1942. Rumah sakit ini sempat dipuindah ke Sidawangi selama dua pekan.  Ketika dikembalikan ketempat semula. Rumah sakit Oranje di berganti nama menjadi rumah sakit kesambi. Ketika masa penjajahan usai berselang 30 tahun lamanya, nama rumah sakit Kesambi diubah menjadi Rusah Sakit Gunung Jati kelas D berdasarkan surat keputusan DPRD Kota Cirebon. Empat tahun kemudian kelas Rumah Sakit Gunung Jati naik menjadi C sebelum pada akhirnya menteri kesehatan melalui surat keputusanya tahun 1987 memberi nilai B untuk Rumah sakit Gunung Jati. Namanya menjadi RSUD Gunung jati pada dua tahun setelahnya.

RSUD Gunung Jati. Itulah nama yang kini tenar disebut oleh masyarakat seantero Cirebon. Satu dari sedikit rumah sakit milik pemerintah yang ada di Cirebon Raya. Rumah sakit ini sekarang sering menjadi pilihan bagi warga Cirebon untuk berobat maupun sarana rawat inap dalam penyembuhan penyakit. RSUD Gunung Jati  bisa dibilang sebagai rumah sakit tertua yang berdiri di Cirebon. Menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Cirebon.  Hingga kini eksistensinya masih terjaga dengan baik. (Wildan)

Baca Juga :

Ini Dia Mitos 7 Sumur Gunung Jati di Cirebon

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY