Revisi Kurikulum Pendidikan, Guru Lebih Mudah Dalam Menilai Siswanya

194


Demosmagz.com – Kurikulum dalam suatu sekolah diterapkan untuk kelancaran proses pembelajaran demi mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai yang telah di rumuskan. Kurikulum dijadikan sebagai sistem yang memiliki beberapa komponen mulai dari tujuan, perencanaan, proses hingga evaluasi pembelajaran. Seiring dengan perkembangan dan kebutuhan pendidikan, kurikulum terus mengalami revisi dan juga perubahan nama, hal ini bertujuan untuk penyempurnaan kurikulum itu sendiri. Seperti sekarang, perubahan menjadi kurikulum 2013  menuai kebingungan baik bagi guru dan siswa itu sendiri.

Salah satu perbedaan kurikulum 2013 dengan sebelumnya ialah proses pembelajaran sekarang  menekankan siswa belajar aktif, sedangkan siswa sendiri sulit memperoleh informasi dari buku-buku terkait. Adapula sebagai percobaan, beberapa sekolah yang menggunakan kurikulum 2013 memperoleh bantuan buku yang dikhususkan untuk pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013, tetapi pada tahun berikutnya sekolah tersebut kembali menggunakan kurikulum lama. Sehingga buku-buku tersebut seolah menjadi pajangan saja karena tidak dipakai lagi, di lain tempat adapula yang justru kekurangan buku.

Selain kurang meratanya sarana penunjang berupa buku, guru-guru juga ikut menilai spiritual siswa meskipun bukan guru agama, karena pada kurikulum 2013 lebih menekankan bagaimana perilaku dan sikap siswa.

Banyak pula perbedaan lainnya, tetapi adanya perubahan kurikulum sebaiknya bukan dijadikan alasan untuk proses pembelajaran menjadi kacau. Apapun kurikulumnya, kunci utama dari pendidikan adalah bagaimana seorang guru mendidik siswanya bahkan tanpa kurikulum sekalipun.

Pada tahun ini, kurikulum 2013 telah selesai di revisi oleh Kementrian Pendidikan dan kebudayaan pada Desember 2015. Juli mendatang secara nasioanal mulai diberlakukan secara bertahap ke sekolah-sekolah. Selain kurikulumnya, buku-buku penunjang sudah di evaluasi dan direvisi.

Dilansir dari jpnn.com, hasil revisi tersebut lebih memudahkan guru karena dalam penilaiannya lebih sederhana.

“Kalau sebelumnya guru matematika harus menilai sikap spiritual dan sikap sosial semua siswa, sekarang tidak. Tugas itu dilakukan guru Agama dan Budi Pekerti serta guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara langsung,” ujar Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Tjipto Sumadi, Kamis (16/6).

Selain itu, Tjipto mengatakan Kemendikbud melakukan pelatihan instruktur secara berjenjang dengan melatih guru mulai Agustus atau September dengan didampingi tim pendamping yang berasal dari SDM masing-masing daerah.(ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY