Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

686
Kegiatan Diskusi Film

Cirebon, Demosmagz.com – Film Dokumenter “Karatagan Ciremai” yang diputar tadi malam (2/11) menceritakan bagaimana seorang wanita asal desa Cigugur, Kuningan Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya yakni Sunda Wiwitan. Wanita tersebut bernama Anih Kurniasih (15), ia dan keluarganya mengalami diskriminasi, sebab agama yang mereka yakini tidak diakui oleh Negara.

Bahkan, sejak lahir Ani tercatat sebagai anak angkat dari kedua orang tua kandungnya. Alasannya, pernikahan orang tua nya tidak dianggap sah oleh negara. Kerap kali Anih dan adik-adiknya kesulitan mendapatkan akta kelahiran dan administrasi kependudukan  lainnya.

Dalam film yang berdurasi 17 menit tersebut, Anih yang saat itu masih SMP mengaku merasa kecewa, dalam lingkungannya kerapkali ia dipandang berbeda karena agama yang dianutnya. Mulai dari teman-temannya, hingga guru yang menyarankan untuk memilih salah satu agama yang diakui negara sebagai salah satu syarat administrasi Ujian Nasional waktu itu.

Selain Anih, beberapa remaja lainnya pun kerap merasa heran karena lingkungan di sekolahnya seolah dikucilkan karena agama yang diyakininya. Menurutnya, bukankah toleransi adalah saling menghargai meskipun berbeda keyakinan. Tetapi yang mereka rasakan adalah diskriminasi yang amat menganggu pikirannya.

Film berdurasi singkat ini mengangkat isu tentang kebebasan berkeyakinan sesuai UUD, pemerintahan yang adil dan tidak mendiskriminasi serta hak mendapatkan kualitas pendidikan.

Dalam pemutaran film di salah satu warung kopi di Cirebon itu, turut dihadiri pembicara yakni Dewi Kanti dari Kuningan, Ady Mulyana sebagai sutradara dan di moderatori oleh Sinta Ridwan. Juga dihadiri oleh beberapa pemain di film tersebut seperti Anih dan teman-temannya. Selain di Cirebon, Film ini juga ternyata akan diputar di Malaysia.

Pada sesi diskusi Dewi Kanti mengatakan bahwa perjuangan mempertahankan keyakinan leluhurnya sangat sulit. Sederhananya, untuk memperoleh pendidikan di sekolah saja cukup lama, karena dalam mengisi formulir pendaftaran ada form untuk mengisi agama. Kemudian, pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Surat Nikah dan lainnya. Padahal, Indonesia menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika, namun dalam implementasinya masih banyak masyarakat yang kurang toleransi terhadap keyakinan. Di akhir ia mengaku senang karena dalam diskusi yang dilaksanakan pada Rabu malam (2/11) banyak dihadiri oleh pemuda.

Kemudian Anih yang kini menginjak SMA bercerita bahwa dulu ia pernah pindah sekolah, awalnya Anih bersekolah di lingkungan mayoritas beragama islam, ia merasakan adanya diskriminasi, lalu pindah ke sekolah yang mayoritas beragama Katolik, ia pun secara tidak langsung merasakan hal yang sama dengan sekolah sebelumya. Mereka seolah merasa kalau Anih adalah bukan bagian dari mereka. Namun Anih dan teman-temannya yang hadir malam kemarin mengaku kini sedikit lebih tenang. Baginya, keyakinan Sunda Wiwitan mengajarkan bagaimana bertoleransi dan mencintai sesama, memiliki Tuhan YME, dan lain-lainnya. Katanya, urusan agama adalah bagaimana hubungan ia dengan Tuhannya.

Sutradara asal Yogyakarta, Ady Mulyana mengaku tergerak hatinya dalam membuat film tersebut. ia menganggap film yang ia buat diibaratkan seperti bagaimana ia memiliki anak. Selain film dokumenter “Karatagan Ciremai” tahun 2015, Ady Mulyana  juga membuat film dokumenter lainnya yatitu Bunga Bangsa (2009), Jari-Jari Mama (2011) dan sedang menggarap film tentang gerakan sejarah perempuan Indonesia di era 1950-1965. (Ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY