Pejlagrahan, Masjid Pertama Yang Berdiri di Cirebon

539

Cirebon, demosmagz.com – Julukan yang melekat pada Cirebon bukan hanya Kota Udang, Cirebon juga dijuluki Kota Wali. Hal ini dikarenakan Cirebon adalah salah satu daerah di Jawa yang menjadi pusat penyebaran Agama Islam. Beberapa Wali songo seperti Sunan Kali Jaga maupun Sunan Gunung Jati benar-benar menjadi ikon daerah yang memiliki dua pusat pemerintahan itu. Karena itulah tidak salah jika sobat demagz berada di Cirebon menjumpai banyak masjid ataupun mushola yang unik. Sebut saja Masjid Gung Sang Cipta Rasa di lingkungan Kasepuhan, Masjid Merah Panjunan maupun Masjid yang lebih modern seperti masjid raya At-Taqwa. Akan tapi tahukah sobat demagz tempat ibadah umat islam mana yang berdiri pertama kali di Cirebon?

Jawabannya ternayata bukan masjid Sang Cipta rasa, Masjid Merah apalagi Masjid Raya At At-taqwa.  Masjid yang pertama kali didirikan adalah Masjid Pejlagrahan. Barangkali banyak dari kita yang masih asing dengan nama masjid tersebut. Masjid atau yang akrab juga di sebut dengan sebutan Tajug Pejlagrahan itu terletak di Jl. Mayor Sastraatmaja, Kampung Grubugan, Kelurahan/Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Tajug Pejlagrahan dibangun oleh pangeran Cakrabuana. Letaknya masih dekat dengan lingkungan keraton Kasepuhan yang dulu ketika Cakrabuana berkuasa namanya masih bernama Keraton Pakungwati. Ya! Tajug pejlagrahan adalah masjid  yang menjadi bagian dari keraton Pakungwati yang konon didirikan pada tahun 1540 masehi. Atau sekitar 100 tahun sebelum Keraton Kasepuhan ada.

Masjid ini awalnya berbentuk persegi berukuran sekitar 8 x 8 meter dan tetap menggunakan bata merah seperti kebanyakan masjid tradisional Cirebon lainnya. Atap dari masjid pejlagrahan berbentuk limasan yang kemudian di puncaknya di hiasi dengan mastaka. Masjid yang atapnya ditopang empat kayu yang bertabur ukiran itu memang memiliki nama unik. Pejlagrahan, dari tulisan yang ditulis oleh Noerdin M Noer salah satu pemerhati Kebudayaan Cirebon yang ditulis oleh salah satu media lokal menyebut bahwa arti pejlagrahan berawal dari kata “Jalagrahan” yang jika dipenggal menjadi jala dan graham. Jala berarti air dan graham berarti rumah. Ya memang masjid ini dikelilingi oleh kolam air.

Masjid ini tercatat  mengalami tiga kali renovasi yang tentunya tidak menghilangkan ke-khasan dari masjid pertama di Cirebon ini. Renovasi pertama pada tahun 1976 dengan ditambahnya serambi dan perubahan gapura. Pada 1986 masjid di renovasi lagi dengan penambahan ke samping untuk acara pengajian. Tahun 1997 masyarakat mengubah warna keramik masjid yang tadinya ubin berwarna merah diganti menjadi putih.

Kini masjid Pejlagrahan memang tak se-eksis dulu. Masyarakat Cirebon pun masih sangat banyak yang tidak tahu keberadaan masjid pertama di daerahnya itu. Banyaknya masjid baru dan di pugarnya masjid- masjid khas Cirebon lain memang sedikit menyingkirkan pesona Pejlagrahan. Meski begitu, masjid tetaplah masjid. Fungsinya adalah untuk beribadah umat muslim dan bukan untuk berwisata. Akan tetapi bekunjung ke masjid bersejarah dapat memberi inspirasi juga ilmu yang lebih terhadap suatu keyakinan. (Wildan)

Baca Juga : Witana, Bangunan Kuno Pertama Cikal Bakal Lahirnya Cirebon

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY