Misteri dan Sejarah Jalan Karanggetas

1566


Cirebon, Demosmagz.com – Karanggetas merupakan salah satu nama jalan yang berada di kelurahan Pekalangan kecamatan Pekalipan kota Cirebon.  Di jalan karanggetas, masyarakat percaya bahwa daerah itu menyimpan cerita  yang masih menjadi misteri. Beberapa orang percaya, jika melewati jalan tersebut akan mengalami kelunturan kesaktian suatu ilmu yang disombongkan.

Menurut seorang Filolog, Rafan S. Hasyim, Karanggetas berarti karang dan getas atau patah, artinya karang saja bisa patah. Selanjutnya ia menceritakan asal mula nama karanggetas berdasarkan naskah trancancutaka.

Waktu itu, ada 3 orang ksatria asal Benggala India yang mendarat di Cirebon, diantaranya pangeran soka dana, pangeran soka wiyana, dan pangeran soka wiyani.  Mereka ksaktria yang sangat sakti dan tidak ada yang bisa mengalahkannya, Pangeran soka dana memiliki rambut panjang yang sangat kuat, seperti kawat, bahkan kalau berjalan berbunyi “srek..srek..srek”. Dia berkeinginan untuk memotong rambutnya sampai mengatakan kalau ada yang bisa memotong grabutnya, maka dia akan berguru. Namun di jazirah India tidak ada yang bisa.

Ketika mendarat di pelabuhan muara jati dan sampai disungai kedungpane tangkil, dia bertemu seorang kakek sedang bentong, membelah kayu gayam, kakek itu dikenal sebagai sunan bentong. Pangeran berambut sakti atau dikenal Syekh magelung kemudian memamerkan kesaktiannya dengan ilmu debus, melempar tombak hingga tinggi dan ditangkap kembali menggunakan telapak tangannya tanpa terluka. “saya boleh nggak mencobanya ?” tanya sunan bentong, “jangan tuan nanti bahaya” khawatirnya, “tapi saya pengen nyoba” pintanya lagi. Akhirnya sunan bentong melemparkan tombak ke atas bahkan lebih tinggi lemparannya, ketika itu syekhmagelung merasa khawatir karena yakin akan berdampak fatal, dugaannya pun benar, tombak tersebut menembus tangan sunan bentong hingga berdarah. “Tuh kan saya juga bilang hati-hati” ucap syekhmagelung. Namun anehnya, tangan sunan bentong akhirnya kembali seperti semula dan tidak terluka sedikitpun. Merasa kaget, syekhmagelung langsung bersujud dan bertanya apakah kakek itu sunan gunung jati yang dia cari. “saya bukan sunan gunung jati, sunan gunung jati lebih tinggi lagi ilmunya” jawab sunan bentong.

Syekhmagelung makin terheran-heran, menurutnya kakek tersebut saja sudah sangat sakti. Terlebih lagi, ketika sunan bentong mengajak makan dan sholat. “mana makanannya kek?” tanyanya, sembari menggelar tiker dan dipersilahkannya, kakek tersebut mengatakan akan menjala dulu, “nanti saya jala dulu” kakek tersebut bukan menjala di air atau sungai, melainkan menjala di daratan dan dengan sendirinya makanan sudah tersaji lengkap dan sudah matang. Sontak hal itu membuat syekhmagelung kaget, “wah benar-benar sakti sekali”. Kemudian dia diajak sholat dhuhur “mana masjidnya?” tanyanya. “kamu wudhu dulu saja di pancuran bambu” jawab kakek. Syekhmagelung masih bertanya-tanya dimana masjidnya dan kakek itu menjawab untuk solat di dalam bambu yang digunakan untuk berwudhu tadi. Lalu ditariklah masuk ke dalam bambu. Akhirnya syekhmagelung menyadari bahwa dirinya sombong, ia merasa malu dan akhirnya rendah hati, dia berfikirnya seharusnya tidak sombong. “Kek saya ingin potong rambut” pinta syekhmagelung.  “Bukan saya yang bisa memotong rambutmu, coba kamu berjalan ke arah selatan saja” perintah sunan bentong.

Kemudian setelah berjalan lama, dia berhenti dan duduk tepat di sekitar kali (sungai) sukalila karena merasa cape dan kelelahan. Lalu dihampirinya seorang yang tua dan bertanya sedang apa kepada syekh magelung. “lagi berteduh” jawabnya. “kamu darimana nak” tanya kakek lagi dan dijawabnya dari India. “Rambut kamu panjang sekali” tanya kakek lagi. “iya kek saya mencari seseorang yang bisa memotong rambut saya, karena saya sudah mencari dan tidak ada yang mampu” jelasnya. Lalu sang kakek tersebut meminta untuk melihat rambut tersebut dan kemudian dipotonglah menggunakan dua jari, maka terpotonglah rambut tersebut oleh seorang kakek yang ternyata adalah sunan gunung jati.  Dari kejadian tersebutlah tepat di sekitar kali sukalila rambut syekh magelung bisa dipotong. Terdapat pula kuburan rambut syekh magelung disekitar kali.

Getas yang berarti mudah patah menceritakan bahwa karang yang sangat kuat saja bisa getas di tempat itu, maka orang yang sombong memiliki ilmu yang tinggi bisa getas di jalan itu, yang kini dikenal jalan karanggetas. Kali sukalila juga berasal dari kata suka dan lillahitaala karena syekhmagelung merasa suka dan sudah ikhlas rambutnya dipotong.

Ketika syekhmagelung ingin mengucapkan terima kasih, kakek itu malah menghilang dan mengatakan kalau mau bertemu maka datang saja ke pamuragan, “di pamuragan kamu akan bertemu masa depan”. Syekhmagelung akhirnya mengikuti sayembara disana dan memenangkan sayembara tersebut.

Selain bisa mematahkankan “getas”, daerah karanggetas selalu basah dan stabil, hal ini dikarenakan sunan gunung jati pernah membuat kanal yang berfungsi agar perahu dari laut bisa lebih ke pedalaman. Selain itu kanal bisa menampung air laut saat pasang. (ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY