Mengapa Matematika Menjadi Pelajaran Yang “Menakutkan” ?

155

Demosmagz.com – Matematika adalah pelajaran exact yang masuk kategori ilmu pasti. Pelajaran tersebut dikenal termasuk salah satu pelajaran yang ditakuti siswa-siswi, mereka takut dan malu jika memperoleh nilai kecil. Alasannya, selain sebagai salah satu pelajaran yang di UN kan, ada yang beranggapan bahwa matematika pun mempengaruhi siswa ketika mendaftar ke perguruan tinggi maupun saat melamar pekerjaan. Dan tak luput dari penghargaan “jenius” yang diperoleh oleh seorang yang ahli matematika, seperti John Nash, Albert Einstein, Isaac Newton, dan masih banyak lagi.

Berbagai cara dilakukan agar siswa menguasai matematika, seperti mengikuti les tambahan. Bahkan pemerintahan di Inggris menyediakan dana untuk mengikuti gaya-gaya mengajar matermatika dari tempat-tempat yang memiliki pencapaian matematika tinggi seperti Shanghai, Singapura, dan Hongkong.

Berikut beberapa alasan mengapa matematika merupakan pelajaran yang ditakuti dan dirasa sulit :

Pelajaran ini bagaikan phobia meskipun masih tahap rendah, Contoh sederhananya ketika kita ditanyai soal hitungan secara lisan di depan banyak orang, lalu sobat tidak dapat menjawabnya, padahal ketika mengerjakannya sendirian bisa sobat jawab, kemungkinan hal tersebut membuat sobat merasa malu, selalu terbayang, bahkan stres karena tidak bisa menjawab. Ketakutan tersebut malah terbawa hingga di dalam kelas saat pelajaran matematika, seperti takut salah menjawab atau cenderung putus asa ketika jawaban sobat ternyata salah.

Alasan mengapa takut matematika diantaranya karena faktor guru yang cenderung menakut-nakuti betapa sulit dan rumitnya matematika, hal demikian membentuk mindset siswa menjadi senantiasa cemas dan takut terhadap pelajaran matematika. Kemudian aturan pelajaran matematika itu sederhana, antara salah dan benar. Maka dalam penilaian, tidak ada toleransi jawaban.

Ketika sobat cermati, hampir semua pelajaran memiliki metode pembelajaran dengan menghapalnya, seperti sejarah, geografi, biologi, atau bahasa Inggris dan lainnya. Namun pada pelajaran matematika, meskipun sudah hafal dengan rumus-rumus tertentu, belum tentu jawaban yang dihitung benar.

Ketika sobat sering melakukan latihan menjawab soal, dengan rumus yang berbeda, kemudian sobat bisa menjawabnya. Namun saat ujian tiba, sobat akan menemui soal yang berbeda, meskipun rumus yang digunakan sama tapi soalnya berbeda, begitulah matematika.

Apalagi pada masa anak-anak mereka jarang mengalami kegagalan, sekalinya gagal, mereka gampang menyerah. Sama halnya ketika salah dalam menjawab soal matematika, mereka justru gampang menyerah bahkan tidak mau mencobanya lagi, akhirnya minat pada pelajaran matematika menurun. Sangat penting untuk memahami bahwa matematika bukan hanya hitung-hitungan, melainkan menguji mental agar tidak gampang putus asa.

Pada pelajaran lain, guru biasanya menyelipkan beberapa cerita menarik dalam menyampaikan materi. Namun berbeda pada matematika, tidak semuanya mengandung cerita yang menarik oleh karenanya siswa cenderung merasa bosan. Matematika tetaplah pelajaran logika dan fakta.

Namun masih ada yang mengira bahwa logika pada matematika adalah sebuah hafalan. Belum mengetahui untuk apa dan mengapa logika dipelajari. Apa yang terbentuk oleh siswa bahkan hingga dosen selama ini lebih dominan pada algorithm thinking atau berfikir algoritma. Cara berfikir tersebut lebih ditekankan pada memahami langkah-langkah dalam menyelesaikan suatu soal matematika tanpa melihat mengapa langkah-langkah tersebut dilakukan. Jika dilakukan akan berakibat siswa tersebut menjadi “robot matematika”, yang mana bisa mengerjakan dengan mudah dan cepat apabila soal tersebut mirip dengan soal sebelumnya yang telah dipelajari, namun akan sulit jika soal tersebut dimodifikasi sedikit , padahal dengan materi yang sama, begitulah menurut Dr. Julan Hernadi dalam jurnalnya.

Mengapa matematika adalah pelajaran yang logis, karena sebetulnya perlu pemahaman dalam membuktikannya, “Belajar matematika dengan cara memahami bukti tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu untuk memahami matematika sebagai bahasa logika Juga, dibutuhkan wawasan matematika yang luas untuk belajar membuktikan fakta-fakta yang lebih rumit, di dalam bukti termuat nilai-nilai strategis yang dapat melatih kita berpikir secara logis. Keindahan matematika juga banyak terdapat pada harmonisasi penalaran-penalaran dalam bukti dengan memahami bukti kita dapat mengikuti alur berpikir para ahli yang pertama kali menemukannya, yang berdampak pada kekaguman terhadap para inventor matematika dan pada akhirnya menyenangi matematika itu sendiri.” Tulis Dr. Julan.

Sobat demagz yang masih ragu dan takut terhadap pelajaran matematika dapat mencoba trik seperti yang diteliti di Amerika Serikat pada 2012, yakni expressive writing atau menuliskan apa yang kita rasakan saat menghadapi matematika. Tindakan tersebut ternyata dapat meningkatkan nilai mereka. Jadikan matematika sebagai tantangan, bukan ancaman. Kemudian oleh studi oleh Academic di Royal Holloway, University of London, mengatakan bahwa mempelajari matematika lebih baik dilaksanakan di pagi hari, karena dengan kondisi otak yang lebih fresh.Tulisan Dikutip dari berbagai sumber (Ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY