Mempertanyakan Identitas Kota Cirebon Kini: Wajah yang Kian ‘Mendung’?

438

Kota Cirebon sekarang banyak mall ya?

Kota Cirebon sekarang tambah macet ya?

Kota Cirebon masih jadi salah satu kota terkorup tidak ya?

Kota Cirebon semakin panas ya, ruang terbuka hijaunya sudah ada belum ya?

… Dan lain-lain. •••

Demosmagz.com – Saya itu kalau sudah pulang kampung dan menyempatkan diri untuk berkeliling kota, dapat dipastikan saya langsung merasa galau. Bagaimana tidak? Sebelum saya pulang kampung pun saya sudah mendengar dan membaca berita bahwa di musim hujan kota Cirebon kebanjiran. Kebanjiran jelaslah bukan suatu prestasi dan bencana banjir sejauh yang saya pikirkan merupakan akibat dari sebagian besar ulah manusia. Setiap tahun di musim penghujan kerap kali terjadi banjir dan seyogianya para pemangku kebijakan dapat segera bersikap dan mengambil pelajaran bahwa sudah seharusnya musibah ini tidak terulang kembali. Hujan deras turun dengan intensitas yang tinggi tidak serta merta dapat disalahkan sebagai penyebab banjir, masalahnya adalah bagaimana curahan hujan tersebut dapat tertampung dan mengalir sebagaimana mestinya. Berkaca pada sistem tata ruang dan jalan, pertanyaan saya adalah apakah gorong-gorong (saluran air) berfungsi dengan baik? Bagaimanakah kondisinya? Apakah gorong-gorong tersebut memadai? Apakah kota ini memiliki ruang terbuka hijau?

Tulisan ini merupakan aspirasi saya pribadi yang menginginkan kota Cirebon semakin baik ke depannya. Secara khusus, saya berharap tulisan ini dapat memberi masukan kepada Bapak Walikota Cirebon. Agar dapat memberikan landasan kritik yang jelas maka saya mengaitkan isu hadirnya ASEAN Community 2015 dengan visi dan misi yang diusung oleh pemimpin kota Cirebon saat ini. Terdapat tiga pilar yang menjadi dasar terbentuknya ASEAN Community 2015 atau selanjutnya disebut dengan Masyarakat ASEAN 2015, yakni sebagai berikut. (1) Politik-Keamanan ASEAN, (2) Ekonomi ASEAN, dan (3) Sosial Budaya ASEAN. Hadirnya isu ini yang tidak lama lagi akan memunculkan integrasi ekonomi di kawasan ASEAN, artinya akan mentransformsikan ASEAN menjadi sebuah kawasan di mana barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan arus modal dapat bergerak dengan bebas. Hal penting yang ingin saya kemukakan adalah memang impresi adanya isu Masyarakat ASEAN ini lebih menitikberatkan kepada peran sentral pemerintah pusat untuk memberikan wewenang strategi-strategi seperti apa yang seharusnya dilakukan. Namun, alih-alih membebankan sepenuhnya kepada pemerintah pusat, toh para pemimpin setiap daerah pun memiliki kewenangan untuk bisa memberikan kontribusi yang jelas pada pencapaian kesejahteraan masyarakat Indonesia karena perwujudan langkah konkret ini harus dilakukan secara bahu-membahu dan melibatkan semua pihak. Saya rasa tentu kita tidak lupa bukan dengan istilah gotong-royong.

Mengingat kota Cirebon yang merupakan kota transit, yakni seluruh bentuk transportasi hadir di sini mulai dari darat, laut, dan udara. Walaupun tidak semuanya dapat terakses oleh masyarakat umum, namun dapat diasumsikan bahwa kota ini memberikan prospek menjanjikan untuk menyejahterakan penduduknya. Sejujurnya, saya tidak tahu kota Cirebon ini akan dijadikan kota seperti apa, tetapi saya mengetahui dengan pasti beberapa julukan kota Cirebon di antaranya, Kota Wali, Kota Udang, dan Kota BERINTAN. Kota Wali dengan jargonnya yang merupakan amanat terakhir Sunan Gunung Jati ialah ‘ingsun titip tajug lan fakir miskin’ (saya mengamanatkan surau dan fakir miskin). Lalu, Kota Udang karena kota ini dikenal dengan sentra budi daya udang dan turunannya seperti terasi atau pun kerupuk. Terakhir, Kota Berintan memiliki makna sesuai dengan singkatan dari ‘BERINTAN’, yakni ‘Bersih, Indah, Tertib dan Aman’. Munculnya penamaan atau julukan-julukan terhadap kota ini tentu berdasarkan oleh sebab khusus, yaitu karena julukan tersebut merepresentasikan rupa kota Cirebon. Entah apakah julukan-julukan tersebut masih sesuai disematkan kepada kota ini.

Hal terbaru yang ditawarkan dalam visi Walikota Cirebon periode 2013-2018 ialah munculnya julukan baru untuk kota ini, yakni RAMAH: ‘Religius, Aman, Maju, dan Hijau’. Visi tersebut seakan menyegarkan julukan-julukan yang sudah ada karena pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan entitas pendahulunya. Religius karena Kota Cirebon tidak terpisahkan dengan historis tokoh panutan bernama Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah seorang dari sembilan wali yang kesohor (Walisongo). Perihal istilah religius ini maka saya mengajukan satu pertanyaan paling mendasar, yaitu sejauh mana aplikasi dari konsepsi religius ini. Apabila menghayati dan melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh Sunan Gunung Jati seharusnya tempat beribadah dapat diberdayakan sebagai pusat aktivitas masyarakat yang serta merta menjadi denyut nadi roda perekonomian masyarakat sekitar. Manfaat yang dapat diperoleh dengan pemberdayaan masjid akan menciptakan pribadi masyarakat yang beriman dan bermoral (berbudi pekerti luhur) sebagai antisipasi merosotnya perilaku pemuda-pemudi yang semakin jauh dari Tuhan, hal itu menyemaikan kembali nilai-nilai terpuji yang dahulu selalu dikedepankan oleh pemuka kota ini. Optimalisasi pemberdayaan masjid, misalnya dari sektor perekonomian justru akan menciptakan kemandirian. Bayangkan saja. Apabila umat Islam, misal dalam shalat Jumat di seluruh masjid yang ada di kota Cirebon, jemaah masjid yang begitu banyak diberikan wejangan untuk menghidupkan koperasi dengan nafas Islami, yakni menghimpun modal untuk digerakkan, memiliki konsepsi jauh dari riba dan tanpa menimbulkan jerat hutang.

Kita tidak boleh kalah dengan semangat dari Walikota Bandung yang baru. Saya ambil contoh dengan mengutip pidato Walikota Bandung:

“Saya ingin memimpin seperti Rasulullah memimpin, bagaimana masyarakat dapat menasehati, memberi masukan, juga bertemu sesama. Kita akan adakan pertemuan rutin, saya wajibkan semua Camat keliling shalat Jumat. Keliling di wilayahnya, agar rakyat mengenal dan bisa saling memberi masukan setelah shalat Jumat. Tiap mengawali aktivitas di Balaikota saya mulai dengan lagu Indonesia Raya dan diakhiri dengan doa. Jadi, tiap Kepala Dinas kudu bisa ngadoa. Akan ada pembinaan juga tiap dinas. Saya punya ide membangun peradaban Islam lewat masjid. Saya sudah kumpulkan tim. Tiap masjid akan ada wifi juga jaringan internet. Jadi, anak-anak gemar ke masjid. Anak-anak sekarang sudah jauh moralnya, kita harus dekatkan dengan masjid. Saya ingin ada Forum Masjid Bandung Juara. Kita bangun peradaban Islam dari 4000-an masjid Bandung. Masjid yang hijau, melek teknologi, bersih. Yuk kita buat Bandung Juara untuk peradaban Islam melalui masjid.”

Konsep-konsep tersebut dapat direplikasi disertai inovasi, namun yang terpenting adalah perwujudannya. Percuma saja kalau hal tersebut hanya akan menjadi sebuah retorika dan slogan kosong semata tanpa adanya aksi dan tidak berlebihan pula jika pada awalnya kami, warga Kota Cirebon menggantungkan asa dan kepercayaan kepada Wlikota Cirebon sebagai pemimpin. Saya yakin tidak ada yang tidak mungkin selama ada niat dan meneguhkan hati, karena apabila pemimpin telah menunjukkan aksinya secara nyata semua warga akan mengikuti dan mematuhi. Saya kembalikan kepada Walikota Cirebon untuk tetap berpegang pada prinsip dan berikan performa terbaik serta jangan sia-siakan kepercayaan rakyatnya.

Terus terang, ketika Kota Cirebon dinilai sebagai salah satu kota terkorup, sebagai salah seorang warga kota ini sudah tentu diliputi oleh rasa malu. Sebaliknya, para pelaku justru tidak punya malu padahal perilaku mereka sungguh tidak bermoral. Tidak heran, jika kondisi Kota Cirebon kian ‘mendung’. Tentu saja saya mendapatkan jawaban kenapa kondisi jalan-jalan utama di pusat kota berlubang dan aspalnya sudah terkelupas. Kalau di pusat kotanya saja seperti itu bagaimana dengan yang berada di pinggiran kotanya bukan? Ini baru masalah jalan belum ke fasilitas-fasilitas umum lainnya yang kondisinya juga memprihatinkan. Bukankah itu aset? Bukankah itu hak kami untuk mendapatkan fasilitas umum yang layak? Bukankah itu tugas pemerintah kota untuk memberikan fasilitas umum yang mumpuni demi terciptanya lingkungan yang efisien nan asri? Kota Cirebon sekarang mulai dilanda macet hal ini karena kota ini terus tumbuh dan akan terus berkembang menjadi kota besar dan jika tidak ditata sedemikian rupa mulai dari sekarang apa malah mau menjadi seperti kota Jakarta yang tidak pernah absen dari macet? Saya tidak memiliki latar belakang pengetahuan seorang arsitek namun orang awam seperti saya sekali pun bisa menilai kalau lanskap (tata ruang) kota ini jauh dari teratur.

Sungguh kota ini sebenarnya memiliki potensi yang besar, untuk menyejahterakan warganya melalui sektor pariwisata yang bisa menarik banyak pelancong baik dari dalam maupun luar negeri. Sayangnya, potensi ini belum tergarap dengan baik.

Penulis adalah Karin Sari Saputra,

Mahasiswa S2 jurusan Ilmu Linguistik Universitas Indonesia

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY