Mengenal Tradisi Muludan Ala Trusmi

397
Puluhan senjata pusaka berupa keris diarak untuk dibawa ke Masjid Kasepuhan; tempat dimana doa bersama dipanjatkan dalam rangka Muludan.

 

Cirebon, Demosmagz.com  Tradisi Muludan merupakan suatu hal yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Cirebon. Setiap memasuki bulan kelahiran nabi Muhammad SAW beberapa daerah di Cirebon seperti Kasepuhan, Kanoman, dan Trusmi menjadi pusat keramaian masyarakat. Setiap daerah tersebut biasanya dijadikan pusat aktivitas para pedagang dan pengunjung yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Daerah Kasepuhan baru-baru ini sudah melewati tradisi muludan beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 12 Desember 2016. Namun jangan salah, keramaian muludan setelah tanggal 12 lalu masih terasa, setidaknya sampai malam tadi (25/12)hanya saja kini letak keramain muludan berpindah tempat ke daerah Trusmi.

Berbeda dengan muludan di Kasepuhan, Keramaian di daerah yang terkenal dengan batiknya itu ternyata hanya berlangsung dua minggu, sedangkan tradisi muludan di Kasepuhan berlangsung kurang lebih selama satu bulan. Selain itu muludan di Trusmi lebih terlihat sesak karena tempat yang di pakai untuk tradisi muludan hanya satu arah.

Puncak acara di trusmi di laksanaka pada tanggal 25 maulid kalender  islam atau kemarin, msyarakat setempat lebih mengenalnya dengan Selawean.  Ritual acara puncak di trusmi ini dengan cara iring-iringan jimat dan tumpeng ke komplek keramat buyut trusmi dan masuk ke dalam masjid keramat Baiturrahman. Nantinya didalam masjid tersebut ratusan orang akan berdoa bersama, di Kasepuhan acara puncak lebih dikenal dengan istilah panjang jimat.

Dalam tradisi muludan ribuan pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat Cirebon saja, masyarakat dari berbagai daerah sekitar Cirebon tidak kalah antusias seperti Indramayu, Subang, Sumedang,bahkan tidak sedikit warga dari luar kota datang jauh-jauh untuk melihat tradisi perayaan kelahiran nabi Muhammad SAW.(har)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY