Melawan Korupsi, Merawat Peradaban

258


Demosmagz.com – Sejarah telah membuktikan bahwa memang korupsi di Nusantara ini sudah mendarah daging. Perilaku korup tak hanya ‘heboh’ di era modernitas saat ini. Jauh sebelum Nusantara memerdekan diri menjadi Indonesia, perilaku korup sudah tercermin pada era kerajaan. Dimana syahwat ingin merebut kerajaan demi kekuasaan dan menguasai sumber ekonomi menjadi faktor utamanya[2].

Tapi, pada era tersebut korupsi belum sampai memasuki sendi – sendi kehidupan masyarakat. Perilaku korup hanya dilakukan oleh raja – raja dan para abdi dalem kerajaan. Berbeda dengan era sekarang, ditengah – tengah hiruk pikuk modernitas justru korupsi semakin meraja rela. Perilaku korup dipraktikan seumur hidup, dari mulai mengurus akte kelahiran sampai mengurus pemakaman. Tak jarang korupsi pun menjerat orang – orang yang menjadi simbol kenegaraan (Eksekutif dan legislatif) dan sekaligus simbol tiang penjaga peradaban (polisi,hakim, dan jaksa). Apa penyebabnya?

Ditengah – tengah gegap gempita dunia modern yang sarat akan tantangan, cobaan dan permasalahan (terutama soal korupsi), nilai – nilai spiritual tak lagi diindahkan. Perkembangan dan kemajuan zaman tidak diiringi dengan kesadaran akan keberagamaan. Padahal, nilai – nilai spiritual sangatlah penting sebagai sumber moral dalam mantra kehidupan sosial. Karena dengan nilai – nilai spiritual itulah suara hati setiap insan tak akan terbelenggu.[3]

Budaya modernitas ini salah satu strateginya yaitu memecah belah, membuat dikotomi,  memecah masyarakat kedalam dua kelompok; ‘dunia saja’ atau akhirat saja. Apa yang terjadi apabila dua aspek tersebut menjadi pilihan? Sudah bisa dipastikan bahwa erosi kehidupan masyarakat akan terjadi. Salah satu sikap paling mengerikan yang telah dilestarikan budaya modern yaitu manusia – dalam situasi dan kondisi apapun – dilarang untuk mempercayai suara hatinya.  Hal ini tercermin dengan hilangnya iman, dan dibuktikan dengan lunturnya moral, integritas, dan yang lebih mengerikan yaitu praktik korupsi semakin massif, sistematis dan terstruktur. Dikotomi pemikiran ‘dunia saja’ atau ‘akhirat saja’ yang harus kita hindari. [4]

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pemikiran ‘dunia saja’menuntut masyarakat modern membuat kasta baru. Dimana keterhormatan hidup dilambangkan dengan kekayaan. Artinya, dalam struktur masyarakat modern orang yang paling banyak jumlah kekayaannya menempati posisi yang paling tinggi. Karena ‘keterhormatan’ tersebut secara tidak sadar manusia berlomba – lomba ingin mendapatkan harta sebanyak – banyaknya. Pekerjaan tak lagi dimaknai sebagai ‘pengabdian’, tetapi hanya disikapi sebagai jalan untuk mendapatkan harta, dan akhirnya manusia tereduksi hanya sebagai mesin pencari uang.

Pendapat diatas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gus Mus, menurutnya, korupsi bisa membudaya di Indonesia karena masyarakatnya (semua, tak terkecuali pejabat) begitu cinta dengan harta duniawi. Materi dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan. Kekayaan lahir menjadi idaman, sementara kekayaan batin terlupakan. Pada akhirnya Kepentingan duniawi  mengalahkan Tuhan, melecehkan kemanusiaan, dan mempersetankan persatuan dan persaudaraan.[5]

Paparan diatas semakin kuat apabila merujuk pada buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah, yang menempatkan korupsi sebagai ‘syirik’ modern. Karena manusia khususnya umat islam yang mayoritas menghuni bumi pertiwi tak lagi meyakini Allah sebagai Tuhannya. Tetapi, uang sebagai kekuatannya[6]. Sebagai bangsa dengan pancasila yang dijadikan falsafah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, seharusnya menyelaraskan kehendak berketuhanan dan berkemanusiaan.

Di Asia, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup. Hal ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Tranparancy International. Indonesia mendapatkan skor 9,25 (10 terkorup), di atas India (8,9), Filiphina (8,33) dan Thailand (7,3). Melihat kondisi seperti saat ini, penanganan pemberantasan korupsi harus dilkukan secara multidimensional, dan melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Penulis berfikir untuk memberantas korupsi harus ada pemotongan generasi. Anak – anak sebagai penerus bangsa harus diberikan pendidikan mengenai pembentukan mental, serta karakter agar anak kelak jauh dari perilaku dan perbuatan  korupsi. Pendidikan anti korupsi harus diajarkan sedini mungkin. Penulis sudah mencoba mempraktikan hal ini dengan membuat sebuah komunitas di Kota Cirebon, dengan diberi nama “Taman Ceria”. Maksud dari komunitas ini yaitu memberikan pendidikan (karakter) terhadap anak – termasuk kecerdasan emosi (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) – , serta memberikan pengetahuan kepada para orang tua agar membiasakan anak – anaknya untuk bersikap jujur sedini mungkin.

Kenapa penulis membuat komunitas yang mengajarkan kepada anak terkait EQ dan SQ, karena dibangku – bangku sekolah dari mulai SD sampai perguruan tinggi dengan kurikulum yang liberalistik hanya menekankan kepada aspek kognitif. Aspek  EQ dan SQ tidak diajarkan, padahal kedua aspek tersebut yang akan membentuk karakter manusia yang lebih humanis, dan  tidak hanya kesalehan individu, juga memiliki kesalehan sosial. Dengan pendidikan karakter (EQ dan SQ) yang mendasar dengan pancaran rukun iman, islam dan ihsan, diharapkan membentuk pemahaman, visi, sikap dan integritas yang didasari atas kesadaran diri dan suara hati yang terdalam. Kemudian, memunculkan kembali rasa kebanggaan dan kesadaran bahwa islam tuntunan keberhasilan yang sempurna, yang akan menciptakan bangunan manusia yang ‘hebat’. Dan hadir sebagai sumber daya untuk kemajuan dan kemakmuran bumi (pertiwi).

Oleh karena itu, mari kita berjihad, jihadnya tuh disini, bukan ke Syuriah atau Afganistan, atau Palestina sekalipun. Yaitu sebuah jihad melawan korupsi, yang merupakan  kemaksiatan paling akbar. Sudahi saja perdebatan yang berkutat dalam level simbolik, seperti menegakan negara islam, pemerintahan islam, dan hal yang serupa dengan itu. Sebagai agama rahmatan lil alamin, dengan amar maruf nahi mungkarnya, kita memiliki kewajiban moral untuk memberantas korupsi dalam rangka menyelamatkan peradaban. Bukannya begitu saudaraku, sebangsa dan setanah air? Hanya kesadaranlah syarat mutlak transfomasi sosial.

Penulis:

Oleh Epri Fahmi Aziz[1]

 

Note : Artikel ini pernah diikut sertakan dalam lomba menulis artikel dengan tema “Berjamaah Melawan Korupsi” yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah.

[1] Mahasiswa jurusan Akuntansi FE Unswagati, dengan moto hidup “Memanusiakan Manusia”.

[2] Pendidikan Anti Korupsi, yang ditulis oleh Drs. Sulaiman M.Mpd

[3] Dajjal Datang Kiamat Tiba, ditulis oleh Jameela Binti Muayyad

[4] Buku ESQ, yang ditulis oleh Ari Ginanjar Agustian

[5]  Wawancara terhadap Gusmus di salah satu media online nasional, penulis lupa link wawancara tersebut.

[6] Buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah

Baca Juga : Freeport Lebih Mahal Ketimbang STNK,BPKB,LISTRIK, SEMBAKO dan BBM!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY