Manfaat Dwibahasa Dari Segi Kognitif, Sosial, Dan Kesehatan

262


Demosmagz.com – Memiliki keterampilan lebih dari dua Bahasa, saat ini telah menjadi lumrah. Mitos-mitos negatif yang beredar bahwa penggunaan dwi bahasa pada anak akan merusak otak justru dibantah oleh beberapa penelitian, pendidikan dwi bahasa pun ada.

Sekitar 60 hingga 75 persen dari lebih setengah orang di dunia berbicara lebih dari dua Bahasa, selain itu banyak negara memiliki lebih dari satu Bahasa resminasional, demikian kutipan dari The Guardian.

Penggunaan dwi bahasa atau bilingual pada anak idealnya diterapkan saat usia 3 tahun, anak terlebih dahulu dikenalkan dengan Bahasa ibu misalnya Bahasa Indonesia. Selain itu, pada usia tersebut anak sudah lancar berbicara sehingga tidak memberatkan anak untuk mempelajari bahasa.

Berdasarkan studi Child Developmet, anak yang menggunakandua Bahasa ini cenderung memiliki kemampuan executive functioning (pengendalian diri untuk mencapai tujuan) yang lebih tinggi, rangkaian pemecahan masalah, penalaran, dan kemampuan lain yang dikaitkan dengan prestasi akademik.

Kemudian dalam studi yang dilakukan oleh Pearl E. dan Lambert W, yang dipaparkan Tirto.id, anak dwi bahasa mengungguli teman-temannya yang eka bahasa hampir pada semua tes, termasuk pada inteligensi non-verbal.

Anak yang menggunakan dwibahasa, akan belajar memikirkan kata-kata yang berbeda untuk diucapkan. Sehingga, ketika anak kesulitan mengucapkan suatu kata dalam satu Bahasa, ia mencari cara mendeskripsikannya dengan cara lain, hal ini disebut sebagai olahraga mental.

Sebagai bilingual, anak memperlihatkan orientasi analisis yang lebih baik daripada anak yang monolingual (Cummins,1978, Ben Zeev,1977).

Dari manfaat segi sosial, dapat membantu anak menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi, menjadi seorang bilingual, anak juga menjadi bikultural, karena ia lebih mudah belajar memahami nilai kebudayaan negara lain.

Kemudian berdasarkan kajian yang dilakukan olehMimin Ninawati, dampak bilingual terhadap perkembangan anak SD merupakan hal yang tepat karena manusia memiliki kapasitas istimewa untuk menguasai bahasa pada masa anak-anak, tanpa melihat apakah bahasa tersebut bahasa ibu atau bahasa lainnya.. Kemudian,kerugian anak yang bilingual jauh lebih sedikit daripada keuntungan dengan menguasai lebih dari satu bahasa.

Penelitian di Sekolah Kedokteran Universitas Kentucky, menyatakan menjadi bilingual dapat bermanfaat bagi kesehatan otak. Seorang bilingual bekerja lebih cepat dan terlatih, selain itu dapat membantu melindungi dari hilang ingatan seperti Alzheimer dan dementia.

Thomas Bak, salah satu penulis dalam penelitian dari University of Edinburgh menyatakan manfaat penggunaan dwibahasa dapat membantu penyembuhan penyakit. “Berbicara dengan berganti-ganti bahasa ini secara praktis member pelatihan terus-menerus pada otak dan ini kemungkinan menjadi suatu faktor yang membantu pemulihan pasien stroke.”(Ade)

*Dari berbagaisumber

Baca Juga :

Ingin Mudah Membuat SKCK ? Inilah Prosedur Pembuatannya di Kota Cirebon

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY