Kisah Ki Bagus Rangin, Sang Panglima Perang Dari Cirebon

2356
null
Patung Bagus Rangin Di Musium Keprajuritan Taman Mini Indonesia Indah

Cirebon, Demosmagz.com – Sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di nusantara hidup dengan rukun dan damai. Mayoritas beragama islam, ada sekitar 90 persen lebih, sisanya menganut agama Hindu, Budha, dan animisme. Ketika datangnya tamu yang tak di undang, apalagi mengacak-ngacak wilayah Indonesia, diantaranya dengan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan masyarakat. Hal tersebut tentu saja mengundang siapa saja yang lahir di Indonesia untuk melawan. Siapa yang mau di jajah? Tentu tidak ada yang mau. Muncullah pemberontakan-pemberontakan untuk mengusir penjajah dari wilayah yang memang mesti diperjuangkan. Dengan apapun cara-cara tersebut dilakukan agar penjajah segera angkat kaki dari tanah Indonesia ini. Bahkan dulu, ribuan rakyat rela mati demi memperjuangkan wilayahnya.

Salah satunya, di Cirebon, betapa beraninya dia, berperan besar dalam perang terlama dan jauh telah ada sebelum munculnya perang diponegoro, dia  seorang yang berasal dari rakyat. Ki Bagus rangin namanya, putra dari seorang kiyai yang memiliki banyak santri. Ki Bagus Rangin tumbuh dilingkungan yang religi, giat belajar ilmu umum dan ilmu bela diri. Ia lahir di Majalengka, tahun 1761.

Ki bagus Rangin memimpin sebuah perang, di kenal dengan perang kedongdong oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Selain itu, perang ini juga akrab disebut dengan perang santri karena pasukan perang banyak melibatkan para santri. Hingga 40.000 pasukan dikerahkan, dengan tujuan yaitu mengusir Belanda dari Cirebon.

Para penjajah baik Belanda maupun Inggris menyebutnya pemberontakan tiada henti yang berlangsung dari 1811 hingga tahun 1818. Ribuan darah manusia bercampur karena banyak yang gugur saat perang tersebut. Aksi pemberontakan tersebut juga diwarnai dengan pembakaran beberapa rumah milik pemborong Cina di Desa Tugu.

Kemudian seorang pasukan dari Belanda, P.H Van der Kemp yang menulis catatan asli sejarah karena merupakan pelaku sejarah, menuangkan tulisannya dalam buku yang berjudul “De Cheribonsche Ounlsten van 1818, Naar Oorpronkelijike Stikken”. Menceritakan kisah pemberontakkan atau perjuangan yang dikomandoi oleh Ki Bagus Rangin dan lainnya. Diceritakan betapa gigihnya Ki Bagus Rangin melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan VOC.

Kemudian Major William Thorn (1993) dari English East India Company, dalam bukunya mencatat mengenai pemberontakan Ki Bagus rangin, sebagai berikut :

“….Sementara itu perhatian pemerintahan Inggris beralih kepada pemberontakan yang patut diperhitungkan yang dilakukan oleh Bagoos Rangin. Dia telah mengumpulkan kekuatan di daerah perbukitan di Indramaju……”

Ki Bagus Rangin, pemimpin perang rakyat, mengatasnamakan rakyat yang berlarut-larut mengalami kesengsaraan akibat penjajah, Tetapi dikisahkan dalam naskah Babad Indramayu justru menyebutkan bahwa Ki Bagus Rangin adalah seorang pemberontak, perusuh, pengacau, dan berandal yang membangkang dan melawan pemerintah Indramayu saat itu. Tidakkah ada pertanyaan yang bersifat asumtif, siapakah yang dimaksud pemerintah Indramayu.  Stigma negatif dikeluarkan dan melekat pada Ki Bagus rangin, menandakan bahwa dominasi penjajah sangat kuat dalam segala hal. Bukan hanya pada pemerintahan saja sebagai simbol politik kekuasaan waktu itu, tetapi pada penulisan naskah sejarahpun seluruhnya diatur penjajah.

Berawal dari laporan seorang penduduk Dermayu bernama Nyi Jaya kepada Adipati Kadipaten Indramayu, Wiralodra. Katanya, ada pergerakan sekitar 1.000 orang bersenjata lengkap di Bantarjati yang akan melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Indramayu. Pasukan itu dipimpin oleh Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit, dan Ki Bagus Kondar.

Akhirnya Wiralodra menyerbu dengan 1.200 pasukan, yang terbagi menjadi dua kelompok, satu pasukan ke Bantarjati dipimpin Patih Astrasuta, dan pasukan ke Jatitujuh dipimpin dirinya. Dalam pertempuran itu, pasukan Ki Bagus Rangin hampir mundur, namun dengan taktik geriliya akhirnya berhasil menang. Pada pertempuran itu, Patih Astrasuta meninggal.

Tak berhenti disitu, Wiralodra meminta bantuan kepada Tuan Gubernur Jenderal di Betawi. Sementara itu, pasukan Ki Bagus Rangin sedang menuju Indramayu sudah sampai di desa Lohbener (Celeng), penduduk disana kebanyakan orang-orang Tionghoa. Ketika datang, pasukan Ki Bagus Rangin hendak dilawan, sebab yang diberitakan adalah akan datangnya pasukan perusuh. Namun perlawanan tersebut urung, karena beberapa di antaranya sudah saling mengenal. Salah satunya,  Kweng Beng (kepala desa) sudah lama kenal dengan anak buah Ki Bagus Rangin yang bernama Bagus Surapersanda. Warga Lohbener menyebutnya dengan panggilan “kang Urang” karena seringkali Surapersanda menyebut dirinya “urang” (saya, bhs. Sunda).Kwee Beng mengingatkan agar jangan ke Indramayu, karena pemerintah sudah meminta bantuan pasukan dari Betawi. Benar saja, dalam pertempuran itu Kang Urang gugur.

Diceritakan lagi dalam Babad Indramayu bahwa Ki Bagus Rangin meninggal akibat tipu muslihat oleh pimpinan pasukan Belanda. Diawali dengan iming-iming jabatan Tumenggung yang akan memerintah Indramayu. Digelarlah pesta perayaan, sementara itu Bagus Rangin sengaja di serang oleh pasukan Cirebon yang dipimpin Kertawijaya yang sudah diminta bantuan oleh Wiralodra. Namun Bagus Rangin bisa lolos. Ada yang menyebutkan, Ki Bagus Rangin meninggal karena di penggal kepalanya.

Sayangnya, Wiralodra harus membayar  mahal karena meminta bantuan pasukan Belanda dari Betawi. Ia tak mampu, sehingga harus menyerahkan tanah wilayah Barat. Kemudian tanah tersebut dijual kepada perusahaan swasta oleh Belanda.

Stigma sebaliknya dari sisi Bagus Rangin ditunjukkan dari tradisi lisan pada masyarakat secara turun temurun. Khususnya di beberapa kecamatan yang menjadi wilayah jelajah perjuangan Bagus Rangin. Seperti di Kecamatan Bangudua, Lelea, Cikedung, Terisi, Gabuswetan, hingga Lohbener mengenang Ki Bagus Rangin dan para pengikutnya sebagai hero. Baik silsilah Ki Bagus Rangin dan pasukannya, mereka merasa bangga. Bahkan, adapula masyarakat yang secara turun temurun menyimpan pusaka Ki Bagus Rangin atau anggota pasukannya seperti keris, golok, badung batok, maupun kopyah waring.

Nama Ki Bagus Rangin seolah sudah melekat dihati masyarakat. Ketika ada yang menyebut bahwa Ki Bagus Rangin adalah perusuh, tentu saja masyarakat akan menyanggahnya. Merekapun menyayangkan naskah babad Dermayu. Bahkan, jika ada pertunjukkan yang menampilkan lakon Bagus Rangin dengan sosok perusuh, berandal serta mudah tertipu Belanda dengan iming-iming jabatan lalu hanyut dalam pesta pora, bisa-bisa ditimpuki dengan batu oleh masyarakat.

Ada yang menarik dari puisi esai yang berjudul Rangin yang dibuat oleh Kedung Darma Romansha, dijelaskan bagaimana perjalanan Ki Bagus Rangin dalam memimpin perang. Dari mulai bagaimana membela rakyat yang menderita, strategi menghimpun gerakan, siasat berperang, ambisi mengusir penjajah, di fitnah, dan lain-lain. Berikut sedikit cuplikan dari puisi tersebut :

Dia dilahirkan dari ledakan, bau mesin, kematian, dan aroma sejarah yang berabad-abad kita hisap dalam ingatan.
Beginikah sejarah?
Kebohongan yang diciptakan
untuk membuatmu betah berlama-lama dalam dongeng.
Ketika kebohongan dan fitnah ditanam di dusun-dusun.
Ketika mata mereka sudah menjadi pisau dan saling curiga.

Kemudian kutipan dalam puisi tersebut dituliskan berupa ajakan untuk membela tanah air, padahal waktu itu Indonesia belum merdeka, yaitu :

“Saudara-saudaraku sekalian!
Sekarang kita berkumpul,
untuk menyatukan tekad kita.
Untuk mengambil hak kita,
hak tanah tempat dulu kita lahir.
Hak hidup kita
hak kekayaan bumi yang kita pijak sekarang ini.
Apa kalian akan diam saja?
Saudara-saudaraku,
lebih baik mati daripada selamanya jadi budak.
Artinya apa?
Kita harus mengambil hak-hak kita
yang sudah dirampas.
Apa kalian siap?”

 

Penulis : Ade

Sumber tulisan : Supali Kasim, “Sayatan Sejarah Yang Terluka” (makalah, 2015)

Dan sumber-sumber lainnya yang relevan

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY