Kisah Affandi, Sang Maestro Pelukis Dunia Kelahiran Cirebon

885
Affandi Koesoema

Demosmagz.com – Affandi Koesoema. Barangkali anak-anak remaja saat ini asing dengan nama tersebut. Padahal Affandi adalah seorang pelukis kenamaan yang karya-karyanya di akui oleh seluruh dunia. Semasa hidupnya Affandi tercatat telah melukis sebanyak 2000 karya. Barangkali karya Affandi sudah tersebar di seluruh dunia. Sebab lukisan-lukisanya telah dipamerkan di hampir semua benua.

Affandi adalah seorang pelukis dengan aliran expresionalisme atau juga bisa disebut abstrak. Karenanyalah bagi orang-orang yang tak terlalu paham dengan seni. Karya Affandi akan sulit dimengerti, akan tetapi bagi para penikmat seni lukis karya Affandi adalah sebuah masterpiece

Karya Affandi Saat Era Kemerdekaan

Tahukah sobat Demagz, jika pelukis kebanggaan tanah air ini ternyata lahir di salah satu desa di Kabupaten Cirebon. Affandi Koesoema lahir di Kecamatan Ciledug pada tahun 1907. Tak ada yang tahu persis kapan tanggal dan bulan berapa Affandi dilahirkan. Affandi adalah anak dari seorang mantri ukur yang bekerja di Pabrik Gula Ciledug.

Diumurnya yang ke-26 tahun putra dari Raden Koesoema itu menikah dengan perempuan kelahiran Bogor bernama Maryati. Dari pernikahanya bersama Maryati, Affandi dikaruniai anak bernama Kartika Affandi yang dikemudian hari meneruskan bakat ayahnya menjadi seorang pelukis.

Sebelum menjadi Maestro Lukis, Affandi menukangi berbagai macam pekerjaan. Dari mulai Guru, tukang sobek karcis di bioskop sampai pembuat reklame bioskop di Bandung.  Sebelum akhirnya ia bersama empat kawannya membentuk kelompok lima bandung. Kelompok lima Bandung adalah kelompok para pelukis Bandung yang digawangi oleh Hendra Gunawan, Barli, Wahdi, Sudarso dan Affandi yang juga ditunjuk menjadi Ketua kelompok,

Ketika Indonesia merdeka, Affandi dan para pelukis lain di zaman itu mengeluarkan lukisan-lukisan propaganda. Banyak pelukis yang menjadikan gerbong-gerbong kereta sebagai kanvas. Menulisinya dengan kalimat ‘merdeka ataoe mati’ ketika itu Affandi mendapat tugas dari Soekarno untuk membuat poster seorang  pejuang  memutuskan rantai yang membelit tangannya. Sembari di bawah poster tersebut di tulis kata-kata milik Chairil Anwar “Boeng Ajo Boeng” yang kemudian disebar luaskan ke berbagai daerah.

Pada 1950-an dirinya terpilih mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan konstituante hingga akhirnya dia masuk ke komisi perikemanusiaan. Pada tahun 1974 wajah pria yang mengidolai tokoh pewayangan Sokrasana itu terpilih oleh Departemen Pos dan Telekomunikasi untuk di jadikan desain prangko edisi artis dan seniman.

Lukisan “Self Potrait”

Pria yang mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore ini ketika melukis memiliki ciri khasnya sendiri. Biasanya Affandi menumpahkan cat yang kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya untuk kemudian melukis sesuai ekspresinya. Salah satu lukisannya yang terkenal adalah ‘Self potrait’ atau potret diri.

Salah satu pemimpin Lekra (Lembaga kebudayaan Rakyat) itu memang sangat dikenal sebagai seorang ekspressionis. Bahkan Koran Internasional Herald Tribune menyebutnya dengan sebutan Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia. Sementara itu di Fllorence Itaia Affandi Koesoema diberi gelan Grand Maestro.

Tak sedikit penghargaan yang didapat oleh Affandi. Seperti tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Lebih dari itu di Italia ia diangkat oleh Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace Pax Mundi di Castelo San Marzano, Florence, menjadi anggota Akademi Hak-Hak Asasi Manusia. Affandi juga melakukan pameran di berbagai dunia seperti di Museum of Modern Art Rio de Janeiro, Brasil, pada 1966, East-West Center Honolulu, di tahun 1988, Festival of Indonesia di Amerika pada 1990-1992, Gate Foundation Amsterdam, Belanda tahun1993 Singapore Art Museum tahun 1994 dan masih banyak lagi pameran-pameran Affandi di dunia juga di tanah Air.

Di Indonesia dirinya mendapat penghargaan Bintang Jasa Utama pada tahun 1978 dan ketika tahun 1986 Affandi diangkat menjadi anggota dewan penyantun ISI (Institut Seni indonesia) Yogyakarta.

Affandi menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya di Yogyakarta pada Mei 1990. Affandi dimakamkan di dalam kawasan museum yang didirikan. Semasa hidupnya Affandi adalah sosok yang membutakan diri pada teori-teori. Dirinya juga menyebut bahwa sosok kepribadiannya belum cukup disebut seorang seniman.(Wildan)

“Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.”

Baca Juga :

Hikayat Keraton Gebang, Sebuah Keraton Bersejarah di Timur Cirebon

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY