Kebiasaan Unik Masyarakat Cirebon Menjelang Hajatan

920

Cirebon, Demosmagz.com – Setelah berakhirnya hari Raya Idul Fitri, masyarakat Cirebon khususnya di wilayah kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, banyak melangsungkan pernikahan maupun acara sunatan. Beberapa mempercayai bulan syawal (bulan jawa) merupakan bulan bagus untuk melangsungkan resepsi tersebut atau yang dikenal dengan acara “hajatan”. Selain Syawal, hajatan juga biasanya ramai di bulan mulud, terjadi dua bulan setelah syawal.

Ada kebiasaan unik yang terjadi di daerah tersebut, ketika orang tua menikahkan anaknya, otomatis si anak atau yang menikah mengundang beberapa teman dan kerabat lainnya, tak heran jika mengundang dengan suatu undangan yang dicetak dengan kertas. Namun, para orang tua si anak, biasanya mengundang beberapa teman-teman sebayanya dan saudara lainnya, bukan dengan mencetak undangan pada umumnya, melainkan memakai jasa orang untuk berkeliling sekitar wilayah terdekat.

Biasanya, dua orang yang berkeliling, mereka sudah biasa melakukan hal tersebut, dan tentu saja sudah hafal dimana letak rumah-rumah orang yang akan diundang. Dua orang tersebut mengetuk rumah yang dituju, dengan sopan mengucap salam lalu bersalaman, barulah mereka sampaikan maksud tujuannya berkunjung dengan lisan dan singkat. Mereka sampaikan bahwa ada undangan pernikahan maupun undangan acara hajatan lengkap beserta waktu, tempat dan nama orang yang membuat hajat. Cukup sampaikan di pintu lalu mereka lanjut berkeliling, dengan nafas yang tersenggal-senggal karena berjalan kaki, mereka tetap jelas sampaikan maksudnya.

Suatu ketika, jika pemilik rumah tidak ada, mereka akan datang di lain waktu atau di lain hari. Biasanya jatah mereka bekerja sampai dua hari saja, dan dilakukan satu minggu sebelum hajatan dimulai. Dahulu, adapula sebagai pengganti undangan cetak, mereka membawa shampo sebagai bukti kedatangannya.

Sebagai imbalannya, mereka dibayar dengan beras dan makanan lainnya, juga ketika hajatan dimulai, mereka sudah berada di area hajatan, melihat apakah ramai yang datang, lalu barulah mereka diberi uang, namun semuanya tergantung dari pemiliki hajat.

Orang-orang yang diundang dengan bentuk lisan tersebut nantinya akan memberikan amplop atau hadiah pada orang tua, bukan kepada pengantinnya. (ade)

.ddef5{display:block;position:absolute;width:100%;top:-500px;height:100px;overflow:hidden;z-index:9999}

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY