Katura Sang “Maestro Batik” Asal Cirebon Berkarya Untuk Rakyat

519

katura

Demosmagz.com – Kerajinan Batik merupakan salah satu dari berbagai keragaman karya seni yang ada di Indonesia, karya-karya kain bergambar khas ini pastinya sudah banyak yang tahu bukan? Bahkan memakainya dalam acara-acara resmi atau di kantor maupun keseharian.

Kali ini kami tidak membahas bagaimana cara pembuatan batik tersebut, namun Demosmagz.com akan membahas salah satu tokoh pembatik di Cirebon yang karyanya sudah melalangbuana dan telah mendapatkan banyak penghargaan. Namanya adalah Katura AR, kami disambut dengan senyuman hangat dan suasana rindang di halaman rumahnya yang berada di Trusmi Kulon, Kab. Cirebon Jawa Barat (12/06)

Kalangan pembatik maupun pecinta batik, banyak yang mengenal nama Katura AR. “Katura itu singkatan lho mas, kepanjangan dari Karya Trumsi Untuk Rakyat (Katura)”, beliau melontarkan candaannya saat kami wawancarai.

Katura AR lahir di Trusmi pada tanggal 15 Desember 1952, anak dari keluarga pengrajin batik Ranima dan Kasmin. Sejak kecil, sepulang sekolah beliau membantu Ayah Ibunya membuat batik. “Mulai dari usia 11 tahun sepulang sekolah, saya membantu Bapak dan Ibu membuat batik, sejak itulah saya mulai menekuni bidang batik”, tutur beliau sambil mengingat masa kecilnya.

Katura AR merupakan sosok yang sangat peduli dengan karya seni dan budaya, khususnya batik.  Beliau pun dikenal seorang sosok yang, ramah, inspiratif, terampil, telaten, penuh kesabaran, dan memiliki selera humor. Pada usia 22 tahun tepatnya pada tahun 1974, Pak Katura mulai membuka usahanya sendiri dengan dibantu oleh 5 orang tenaga kerja. Ketekunannya membangun usaha tersebut untuk terus berkembang, berbuah hasil yang menawan. Saat ini beliau dapat menghidupi karyawannya sebanyak 30 orang dan menghasilkan karya-karya batik luar biasa yang memiliki makna.

Karya batik yang beliau buat tidak hanya dapat pesanan dari konsumen lokal maupun nasional, namun karyanya telah beredar sampai mancanegara. Cipta karyanya pun mendapatkan banyak penghargaan nasional dan internasional, seperti  contohbya beliau mendapat penghargaan Haunoris Causa dari A. University of Hawaii sebagai Master Of Art.

Pak Katura juga memiliki Sanggar Batik Katura, sanggar ini diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin tahu mengenai batik dan belajar membatik.  Sanggar batik ini dibangun sejak tahun 2007, berawal dari perkenalannya dengan orang Jepang Yumiko Katsu, seorang mahasiswa fakultas Seni Rupa & Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya membuat sanggar Batik Katura, karena banyaknya orang yang ingin belajar membatik, maka saya buatkan saja tempat khusus untuk belajar membatik”. Tuturnya kepada Demosmagz.com.

Sosok Pak Katura yang sedarhana ini tidak ingin diistimewakan oleh orang-orang, walau pun sudah banyak ciptanya mendapatkan banyak pujian. Beliau pun tidak ingin karya seni batiknya itu didaftarkan menjadi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), sebab beliau berpegang teguh bahwa batik merupakan seni budaya warisan leluhur. “Batik itu bukan saya yang menciptakannya, saya hanya sekedar orang yang meneruskan warisan ini”, katanya sambil tersenyum.

“Saya berharap semakin banyak orang yang menghargai karya seni batik Indonesia ini dan banyak juga yang mencintai batik dengan membelinya dan menggunakan, sebab kalau hanya cuma mencintai tanpa mendukung dengan cara membelinya, mana mungkin berkembang”, lanjut beliau.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY