Jelang Pengukuran, Beredar Pesan Singkat Terkait Proyek BIJB

908


Demosmagz.com – Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang dalam waktu dekat akan melakukan pengukuran tanah, terkait dengan proses pembebasan lahan untuk proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat.

Beberapa sumber  data yang Demosmagz.com rangkum, Sesuai dengan surat Kepala Kantor Pertanahan Majalengka kepada Sekretaris Daerah Jawa Barat, dalam isi suratnya menyatakan BPN akan melanjutkan proses pengukuran tanah di Desa Sukamulya, yang dijadwalkan pada hari ini, selasa (9/8).

Proyek pembangunan BIJB ini membutuhkan lahan seluas 1.800 hektar, dari kebutuhan lahan tersebut, 895 hektare tanah telah dilakukan proses pembebasan dari warga. Pada hari ini dilanjutkan pengukuran lahan di Desa Sukamulya mencapai 382 bidang tanah yang akan dibebaskan.

Sehari sebelum proses pengukuran tanah yang dilakukan BPN selaku tim pelaksana lapangan, beredar pesan singkat mengatas namakan Front Perjuangan Rakyat Sukamulya (FPRS) dan Serikat Petani Majalengka (SPM),  tentang penolakan proses pembebasan lahan warga. Dalam pesan singkat tersebut menyatakan, Desa Sukamulya adalah satu-satunya Desa yang masih bertahan menolak proyek pembangunan BIBJ ini.

“Desa Sukamulya seluas 735 hektare adalah satu-satunya desa yang masih bertahan. Hingga saat ini, dari total 1.430 Kepala Keluarga warga Desa Sukamulya, sejumlah 60 Kepala Keluarga dengan lahan seluas 33 ha telah diserahkan kepada panitia melalui calo-calo pembebasan lahan, yang terus menerus membujuk dan mengitimidasi warga untuk menyerah dan melepaskan tanahnya”, Itulah sepotong pesan pendek tersebut.

Dalam pesan singkat itu pun tertulis, Warga Desa Sukamulya sebelumnya juga telah menyampaikan tuntutannya kepada BPN, Komnas HAM dan Mabes Polri. Penolakan  warga tersebut berdasarkan belum disepakatinya bentuk ganti rugi, banyak kecurangan dan praktek calo. Dalam proses pengadaan tanah BIBJ ini, pemerintah tidak mempertimbangkan  dampak sosial, ekonomi, budaya, seperti keberlanjutan mata pencaharian warga yang utamanya bertani dan berkebun.(ara)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY