Inilah Kenapa Perayaan HUT Kota Cirebon di Peringati Setiap Tanggal 1 Muharam

981


Cirebon, demosmagz.com – Perayaan ulang tahun kota Cirebon dilaksanakan setiap tanggal 1 muharam, pengambilan tanggal dan bulan jawa tersebut mengakibatkan perayaan ulang tahun terjadi di tanggal dan bulan yang berbeda-beda pada kalender masehi. Meskipun sempat dirayakan setiap tanggal 1 April, seperti di kabupaten Cirebon yang merayakan di setiap tanggal 2 April. Sebenarnya, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon lahir pada masa yang sama. Lalu apakah sebabnya HUT kota Cirebon jatuh pada 1 Muharam?

Tonggak sebagai lahirnya kota Cirebon pada 1 Muharam 791 hijriah berdasarkan pada kresnapaksa (paro-terang), Cetramasa (Maret-April) 1367 saka (1445 Masehi).

Metodologi penulisan sejarah terdiri dari primer, sekunder, tersier atau sumber pertama, sumber kedua, sumber ketiga, dan sumber keempat. Sumber pertama merupakan fakta yang ditulis sendiri oleh pelaku sejarah atau orang lain, sumber kedua ditulis setelah generasi berikutnya. Sedangkan sumber ketiga merupakan pengumpulan pendapat yang dilakukan seperti wangsakerta. Kemudian sumber keempat ialah berdasarkan dongeng, Sejarah Cirebon sendiri berdasarkan sumber ketiga.

“Sejarah Cirebon ini nggak ada sumber pertama dan sumber kedua, Jadi sejarah Cirebon ini dari sumber ketiga, berdasarkan pendapat dalam gotrasawala (musyawarah untuk menyelesaikan selisih pendapat selama 21 tahun). Selama itu, wangsakerta menulis 1703 kitab. Tetapi saya melihat 1 April itu berdasarkan sumber primer.” Ujar Nurdin M Noer, wartawan senior dan pengamat sosial saat ditemui demosmagz.com di kediamannya pada 1 Oktober 2016.

Berdasarkan Gemeente Cheribon ditetapkan pada 1 April, kemudian 1 muharam mengacu kepada awal pangeran Cakrabuana bersama penduduk membuka hutan kebon pesisir untuk membuat pemukiman.

Cirebon sebelum abad ke-14 Masehi merupakan perkampungan nelayan kecil bernama Muarajati dan merupakan bagian dari kerajaan Galuh. Selanjutnya pada pimpinan Ki Gedeng Tapa membangun dusun Lemahwungkuk, yang sekarang dinamai Cerbon. Pemberian nama cerbon (Cirebon) artinya mixture atau campuran akibat banyaknya para saudagar dan orang-orang dari berbagai bangsa yang membangun dusun itu. Ki Gedeng Tapa diberi gelar oleh Raja Padjajaran dengan nama ki kuwu Cerbon. Kemudian dia digantikan pangeran Walangsungsang, salah seorang Prabu Siliwangi dan kemudian mendapat gelar Pangeran Cakrabuana.

Berdasarkan Kitab Negarakrthabumi, pada tahun 1362 saka (1440/1 Masehi), di dukuh kebon pesisir tinggal dua pasang suami istri berasal dari Cirebon Girang. Mereka bernama Ki DanuseIa dengan istrinya Nay Arumsari serta Ki Sarnawi dengan istrinya. Karena usia tua Ki Sarnawi dan istrinya, tidak lama mereka meninggal. Ki Danusela bergelar Ki Gedheng Alang-Alang. Kemudian datanglah Ki Somadullah (pangeran Walangsungsang) beserta istrinya, Nay Indang Geulis dan adik Ki Somadullah, ialah Nay Lara Santhang. Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Ki Somadullah setelah berguru agama islam di Gunung Jati.

Pangeran Walangsungsang mulai menebas hutan yang hendak dijadikan pemukiman pada 14 kresnapaksa (paro-terang), Cetramasa (Maret-April) 1367 Saka (1445 Masehi). Saat itu ada 52 orang yang tinggal dan bermata pencaharian menangkap ikan di sungai atau pesisir laut. Mereka membuat terasi, petis, dan garam. Penduduk desa Cirebon bertambah menjadi 346 orang pada tahun 1369 Saka (1447/8 Masehi). Berdasarkan catatan, laki-laki 162 orang dan wanita 164 orang. Mereka terdiri dari orang Sunda 197 orang, orang Jawa 106 orang, orang Swarna bhumi 16 orang, orang Hujung Mendini 4 orang, India 2 orang, Parsi 2 orang, Siam 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang. Disitulah Cirebon mulai ramai. Ki Somadullah mengajarkan agama Islam dan mendirikan tajug Jalagrahan di pantai laut, banyak orang menjadi muslim.

Konon bertepatan dengan 1 Muharam 71 Hijriah, pada 14 kresnapaksa (paro-terang), Cetramasa (Maret-April) 1367 Saka (1445 Masehi), itulah yang dijadikan tonggak lahirnya Cirebon. Sedangkan kabupaten memilih menetapkan 2 April 1454 Masehi sebagai tonggak kelahirannya yang sebenarnya merupakan masa yang sama dengan kota Cirebon.

Selanjutnya, Cirebon digambarkan sebagai daerah yang terbuka. Secara tegas dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (Pangeran Arya Caron, 1720) terjemahan P.S. Sulendraningrat (1983) dalam tulisan Nurdin M Noer, Cirebon sebagai sarumban (campuran). ………”ri witan ikang ngaran Caruban yeka sarumban, i wekasan ika mangko Caruban tumuli, ana pwa ike nagari dening sang Kamastwing kang sangan……….dan ketika itu pula negaranya disebut Caruban. Kata Caruban semula dari sarumban, artinya campuran berbagai suku,bahasa, adat istiadat dan agama. Dari sarumban itulah akhirnya berubah ucapan menjadi Carbon (Cirebon sekatang). Negara itu oleh para wali disebut sebagai negara Puserbumi (winastwan ngaran Puser Bhumi). (ade)

 

Referensi : tulisan Nurdin M Noer

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY