Ini Sosok Para Pahlawan Yang Menjadi Nama Jalan Kota Cirebon

1945


Demosmagz.com – Jangan sekali-kali melupakan sejarah, begitulah salah satu kutipan dari pidato Bung Karno saat perayaan kemerdekaan Indonesia di tahun 1966. Istilah yang juga biasa disebut dengan sebutan Jas Merah itupun kemudian melegenda sebagai istilah populer untuk menghargai jasa pahlawan.

Akan tetapi masih banyak di antara kita yang tidak tahu atau mungkin tidak tahu seperti apa rupa dan perjuangan pahlawan-pahlawan kemerdekaan.

Di Cirebon sendiri khususnya di Cirebon Kota, kita banyak menjumpai nama jalan yang menggunakan nama pahlawan. Sebut saja Jalan Cipto, Jalan Wahidin, Jalan Sudarsono atau mungkin Yos sudarso. Nah, kami telah merangkum sedikit profil tentang para pahlawan yang dijadikan nama jalan di Kota Cirebon.

Cipto Mangunkusumo

Dr. Tjipto Mangunkusumo. Namanya sudah pasti dikenal oleh banyak orang, sebab hampir diseluruh wilayah Indonesia,  nama Mangunkusumo sering dijadikan nama jalan-jalan utama di kota-kota besar di Indonesia. Salah satunya di Cirebon. Cipto Mangunkusumo  menjadi nama jalan penghubung di Pusat Kota Cirebon. tapi tahukah sobat demagz siapa Cipto Mangunkusumo?

Dr. Tjipto Mangunkusumo dikenal sebgai tokoh tiga serangkai bersama Douwes Daker dan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Mangunkusumo juga dikenal sebagai pejuang politik yang memiliki ambisi memerdekakan indonesia. Mangunkusumo pernah di asingkan ke Belanda, Namun justru dalam pengasinganya Mangunkusumo bersama Douwes Daker dan Suwardi mendirikan majalah De Indier. Sebuah majalah propaganda untuk menyadarkan masyarakat Belanda bagaimana sulitnya situasi di negara jajahanya. Tjipto mangunkusumo wafat pada 8 Maret 1943.

Dr. Wahidin

Nama yang satu ini juga menjadi salah satu nama jalan utama di Kota Cirebon.  di jalan Wahidin terdapat beberapa kantor pemerintahan seperti dinas Lingkungan Hidup, kantor kejaksaan sampai pengadilan negeri. Lalu seperti apa sosok Dr. Wahidin Sudirohusodo?

Dr. Wahdin lahir di Sleman Jogjakarta pada tahun 1852. Wahidin adalah seorang dokter yang memiliki keinginan mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya salah satu cara untuk membebaska diri dari penjajahan adalah dengan dibekali pendidikan yang tinggi. Dua pokok yang menjadi perjuangannya ialah memperluas pendidikan dan pengajaran dan memupuk kesadaran kebangsaan. Selain itu sebagai seorang dokter dia selalu menggratiskan rakyat yang berobat kepadanya.

Brigjen Dharsono

Nama lengkapnya adalah Hartono Rekso Dharsono. Akan tetapi biasa dikenal juga sebagai Brigjen Dharsono. Jalan Brigjen Dharsono biasa juga di sebut dengan Jalan By Pass, sebab memang jalan Brigjen Dharsono adalah salah satu ruas jalan pantura yang biasa dilewati oleh para pengdara dari luar Cirebon.

Dharsono adalah seorang angkatan bersenjata Indonesia  yang bertindak sebagai komandan batalyon pada masa perang kemerdekaan di tahun 1946 sampai dengan 1949.  Pada tahun 1969 pria yang akrab dipanggil Pak Ton ini ditugasi presiden Soeharto sebagai duta besar Indonesia untuk Thailand.  Pada tahun 1976 namanya makin melambung karena ditunjuk sebagai Sekjen Asean. Dirinya meninggal pada tanggal 5 Juni 1996 di Bandung pada usia 70 tahun

Dr. Sudarsono

Jalan sudarsono adalah jalan yang terletak di samping rumah sakit gunung jati. Jalan ini juga biasa diakses dari perempatan jalan pemuda dan jalan Cipto mangunkusumo

Namanya mungkin tidak terlalu dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional. Akan tetapi dirinya adalah salah satu pejuang asli Cirebon yang mengumandangkan proklamasi pertama di Cirebon pada tanggal 15 Agustus 1945. Sudarsono adalah seorang kepala rumah sakit kesambi yang sekarang biasa disebut sebagai rumah sakit gunung jati.

Yos Sudarso

Nama Yos Sudarso menjadi nama jalan di daerah Cangkol. Ya, didaerah ini kita akan menjumpai banyak sekali bank . entah itu bank swasta ataupun bank milik negara. di jalan ini kita juga akan menjumpai Bank Indinesia Cirebon dan juga kantor Pos utama kota Cirebon

Yosaphat Soedaso adalah pahlawan yang gugur di medan perang pada pertempuran  Laut Aru. Dirinya ditembak diatas kapal republik Indonesia Macan Tutul  oleh kapal patroli milik belanda pada masa kampanye trikora. Ia lahir pada 24 November 1925 di Salatiga dan meninggal pada 15 Januari 1962.(Wildan)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY