Ini Dia Sejarah Hari Ibu di Peringati Pada Tanggal 22 Desember

411


Demosmagz.com – Peringatan hari ibu jatuh tepat hari ini pada tanggal 22 Desember, hal ini juga telah ditetapkan menjadi hari besar nasional. Tanggal tersebut ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Pemaknaan hari ibu bermacam-macam, mulai dari kata-kata kasih sayang, pemberian hadiah, foto bersama ibu, sampai acara-acara resmi lainnya. Peringatan hari ibu juga dilakukan oleh negara-negara lain, dengan tanggal yang berbeda-beda. Namun tahukah sobat demagz kenapa hari ibu di Indonesia diperingati tiap tanggal 22 Desember ? kemudian mengapa perlu diperingati dan apa asal-usulnya ?

Asal mulanya adalah ketika berkumpulnya para pejuang perempuan dari Jawa dan Sumatra, ada perwakilan dari 12 kota. Mereka mengadakan Kongres Perempuan Indonesia 1 pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini diprakarsai oleh tiga tokoh wanita yaitu R.A. Soekonto dari Organisasi Wanita Utomo, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa dan Sujatin dari Putri Indonesia.

Dihadiri lebih dari 600 perempuan pribumi dari 30 organisasi yang berbeda, juga berlatar belakang suku dan agama yang berbeda. Mereka berkumpul untuk bertukar gagasan tentang pembahasan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Pembahasan tentang perkawinan anak disampaikan oleh Moega Roemah, kemudian pembahasan tentang derajat dan harga diri perempuan disampaikan oleh Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya, dan Siti Moendji’ah. Mengenai adab perempuan disampaikan oleh Nyi Hajar Dewantara. Ada juga pembahasan tentang perkawinan dan penceraian.

Lebih dari itu, ada pembacaan pidato berjudul “Iboe” yang dibacakan Djami dari Darmo Laksmi. Diceritakannya pengalaman ketika kecil, pada masa kolonial, anak laki-laki menjadi prioritas dalam mengakses pendidikan. Sehingga pendidikan bagi perempuan tidak dianggap penting. Djami menentangnya, di jaman itu ia justru sudah memiliki pandangan yang maju, meskipun lebih menekankan pentingnya pendidikan perempuan yang berperan sebagai ibu.

Menurutnya, jika perempuan memiliki pendidikan yang kurang, maka pendidikan terhadap anak yang dikandung dan dibesarkannya sebetulnya terancam. “Selama anak ada terkandung oleh ibunya, itulah waktu yang seberat-beratnya, karena itulah pendidikan Ibu yang mula-mula sekali kepada anaknya.” katanya.

Kepandaian yang dimiliki seorang ibu merupakan modal besar untuk menjadikan anaknya pandai. karenanya Pergerakan Nasional memerlukan anak-anak yang pandai dari ibu-ibu yang pandai juga.

Tujuan dalam kongres tersebut pada akhirnya mengarah pada bentuk perjuangan bersama kaum laki-laki dalam memajukan bangsa dan untuk mencapai persatuan bangsa.(Ade)

Baca Juga :

Inilah Kenapa Perayaan HUT Kota Cirebon di Peringati setiap 1 Muharam

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY