Freeport Lebih Mahal Ketimbang STNK,BPKB,LISTRIK, SEMBAKO dan BBM!

336

Cirebon, Demosmagz.com – Belakangan ini, masyarakat kembali digegerkan dengan riuh gemuruh soal beberapa kenaikan harga yang menjadi kado awal tahun 2017 dari Pemerintah kepada rakyat yang tidak dicintainya. Sebut saja seperti BBM naik 300/liter, Sembako, Listrik, STNK dan BPKB,serta hutang luar negeri yang kembali melejit di APBN 2017. Beberapa isu tersebut,yang memang menjadi santapan sehari-sehari alias kebutuhan pokok sukses menyabet perhatian publik. Lantas sebetulnya ada isu apa yang ditutupi ? Ya, soal Freeport kembali tenggelam yang izin eksport konsentrasinya akan habis tertanggal 11 Januari 2017, pas dengan judul lagu salah satu band bernama Gigi.

Sudah menjadi mainan poli(tikus) soal isu – isuan. Sebentar lagi juga nongol pahlawan kesiangan yang menarik peraturan yang ditekennya sendiri. Seperti kasus sebelumnya yang pernah terjadi, sandiwara jilid dua ini namanya. Paling yang beda adalah alasannya, kalau dulu karena katanya tidak dibaca terlebih dahulu, sekarang mungkin bias jadi soal misskomunikasi di internal,benar-benar klasik.

Sempat ramai juga di lini masa soal bendera Papua merdeka di salah satu kedutaan, dan menjadi  perbincangan juga. Ada yang lebih penting, kalo soal tersebut hanya mainan intelejen saja. Supaya kemudian muncul opini diurus atau diperjuangkan kemakmurannya melalui tanah surga yang ada, giliran mau merdeka sendiri dilarang keras. Mainan anak – anak itu sih.

Setelah Pemerintah beserta kebijakannya yang mbalelo diwarnai dengan saling lempar telur busuk memang tercium begitu menyengat dihidung masyarakat,terutama mereka yang menengah kebawah, dan penghuni terbanyak bumi pertiwi. Tak heran, kalau kemudian gelisah, penuh keragu-raguan menyongsong hari esok dengan bayang – bayang harga yang semakin mencekik.

Dibalik isu yang dikemas lewat berbagai pemberitaan soal kenaikan harga sembako, sayur-mayur,listrik,BBM,dan STNK/BPKB, ada satu persoalan yang nilainya justru lebih menjengkelkan. Terlebih Freeport dengan ribuan triliyun masih melanglang buana bebas membawa konsetrat emas, perak dan tembaga dengan kapal-kapalnya. Tak terlihat secuilpun kewibawaan, ketegasan, apalagi keberanian soal yang satu ini. Padahal sudah enam kali dilakukan oleh perusahaan asal Amerika tersebut.

Persoalan ini sempat dibahas dibahas di DPR, walaupun entah kelanjutannya seperti apa,mungkin nyangkut, menunggu pelicin terlebih dahulu agar lancar. Nilai tambah dari tanah emas Papua itu, memang tidak sedikitpun kita peroleh dari anugrah yang terkandung didalamnya. Wacana Smel terbaru terdengar kemarin sore, padahal sudah dari abad apa seharusnya itu dilakukan. Pembangunanan Smelter pun tak ubahnya lelucon yang sering dipertontonkan.

Bagaimana tidak ganjil, dengan total kapasitas produksi yang mencapai 2 juta ton, Smelter yang katanya di bangun di Gersik –Jauh nilainya dari Papua- hanya memiliki kapasitas 300.000, loh sisanya yang 1,7 Ton itu ngumpat kemana? Tolong carikan!

Mari kita hitung – hitung sederhana matematika yang anak Sekolah Dasar juga jago banget sepertinya.

Coba kita hitung berapa nilai 2 juta ton konsentrat emas dan copper cathode 400.000 ton per tahun. Dalam 1 ton kandungan konsentrat PT Freeport Indonesia, terdapat sebanyak 22 persen tembaga, 2.5 gram emas, dan 40 gram perak. Sisanya adalah lumpur pasir atau besi dan lain sebagainya, yang intinya semuanya jadi uang!

Saya tidak tahu harga logam mulia dan barang tambang tersebut, anggaplah kita hitung emas harganya Rp.500.000/gram sudah dapat berapa? Harga tembaga $2,55/gram dari per ton dapat 220 kg. Sudah berapa?? Belum lagi perak dan besinya. Belum lagi sisa lumpur yang lainnya? Berapa Trilyun???? Tolong hitungkan, kalkulator sampe nge-bleng nih!

Padahal udah ada produk hukum seperti UU 4/2009, banyak yang udah dilanggar perusahaan raksasa asal pamansur itu. Kepada Bapak Presiden  yang menghormati saya, tugas Bapak mudah, tidak perlu repot cengengesan untuk memberikan keterangan yang semakin membuat Bapak semakin terlihat necis, saya terharu melihatnya. Cukup dengan melaksanakan UU dan peraturan yang ada saja, masa hanya  melaksanakan saja ndak iso, pie toh le,le.

Tidak perlu capek membuat serangkaian isu yang membalut fakta lain yang lebih penting. Coba bayangkan dan realisakan, manfaat seperti apa yang akan kita dapat jika nilai tambah dari tanah surga Papua bisa kita peroleh, bila perlu kita rebut. Ternyata lebih gampang menyengsarakan rakyatnya ketimbang berani gebrak meja di depan asing toh le.

Tanggal 11 Januari 2017 ini habis izin ekspor konsentratnya, mana ada gerakan dari pemerintah untuk menghentikan ekspor konsentrat?? Kita lihat saja si Jonan (menteri ESDM), kalo tidak berani mending ganti si Conan –detective-. (Epri)

Baca Juga : Menanti Netizen dan Pengguna Internet Ramai – Ramai Mengisi Jeruji Besi

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY