Fakhrudin, Orang Aceh Pelopor Gerakan Tanam Mangrove untuk Cirebon

381
Ir.Fakhrudin pegiat tanam mangrove

Cirebon, Demosmagz.com ‘Dimana bumi dipijik disitu  langit dijunjung’ itu yang pertama kali di ucapkan   Ir. Teuku Fakhrudin kepada demosmagz.com. Fakhrudin lahir pada tanggal  26 juni tahun 1969  di ujung timur indonesia tepatnya banda aceh pertama kali menginjakan kaki di tanah cirebon pada tahun 1994 dan sampai saat ini menetap di Cirebon. Kondisi lingkungan khusunya pesisir yang semakin tergerus oleh abrasi menjadi perhatian beliau untuk melakukan sebuah gerakan pelestarian pesisir di Kabupaten Cirebon. Beliau yang memiliki  background pendidikan insinyur kehutanan Pada tahun 2010 mempelopori penanaman mangrove di wilayah kabupaten cirebon.

“karena kita merasa prihatin garis pesisir kita terabrasi bukan hanya di pesisir cirebon tetapi seluruh indonesia, keberadaan saya sekarang berada di kabupaten cirebon, mau tidak mau suka tidak suka saya harus mempunyai andil disini, andil yang  bisa saya berikan ya implementasikan ilmu saya adalah bagaimna kita bisa mengatasi abrasi pesisir kita tidak terus meluas” Tutur beliau kepada demosmagz.com.

Menurut penjelasan Fakhrudin gerakan ini diawali pada tahun 2010, dengan melakukan penanaman mangrove didesa pasindangan. Dilihat bahwa ada pertumbuhan, sehingga tahun 2011  beliau melakukan penanaman sebanyak 30 ribu pohon dan tersisa kira-kira  20ribu pohon yang masih hidup karena terhempas ombak.

Selanjutnya pada tahun 2012 Fakhrudin mulai masuk Desa Jadimulya, di tahun 2013 dirinya melakukan gerakan di Desa Kelayan dan dilanjutkan pada tahun 2014 di Desa Jatimerta Kecamatan Gunung Jati Cirebon.

“Luas garis pesisir yang kita tanam seluas 3500m dengan ketebalan menuju laut ada yag   75 m ada yg 60 m, tingkat abrasi yang paling kencang di Desa Jadimulya,jika didesa ini sudah kelihatan ada komunitas hutan mangrove nya baru kita pindah ke desa lain klayan dan terus begitu”. Tutur beliau kepada demosmagz.com.

Fakhrudin menargetkan dapat tercipta kawasan hutan mangrove dengan panjang pesisir 3500m/3,5km dengan ketebalan 200m kearah laut,sehingga jangka menengah dari gerakan ini kawasan tersebut menjadi arboretum.

“Arboretum itu tempat mangrove yang sekian genus sekian spesies ada disini, kita ketahui di indonesia ada sebanyak 168 species mangrove yang hendaknya ada 60 % disini,itu target saya dan itu supaya ada pembelajaran untuk adik-adik agar kearah edukasi supaya mereka tahu bahwa mangrove itu bukan hanya bakau atau api-api,tapi banyak jenis mangrove pun bisa untuk obat serup dll.”

Menurutnya hambatan dalam penanaman mangrove di pesisir adalah sampah dan gelombang. Seperti yang ada di kecamatan Gunung Jati

“berbicara masalah sampah kecamatan Gunung jati ada 4 sungai itu material sampai dari hulu dan hilir itu luar biasa. Bisa dikatakan TPA kabupaten cirebon yah pesisir ini. itu yang menghambat pertumbuhan mangrove. Yang kedua gelombang maka kita bikinkan apo ini alat pemecah gelombang. Apo ini untuk menangkap sedimen, sehingga ketika ombak surut akan meninggalkan lumpur untuk media tanam. Ketiga fungsi apo untuk menahan sampah. Selain hambatan tersebut yang menjadi hambatan kita, yaitu ketika  masyarakat tidak tahu Perda sebatan pantai  100 m dari air pasang tertinggi, klo kita tarik 100 m dari pasang tertinggi habis tambak masayarakat, maka  win- win solution kita kasih batas patok untuk membatasi agar masyarakt tidak boleh membuat tambak lagi kedepan melewati batas ini”.

Menurut beliau gol dari gerakan ini adalah ekowisata maka agar ekowisata tersebut dapat tercipta beliau berharap kerjasama dari seluruh elemen.

“Tolong pemerintah kabupaten cirebon itu benar benar memperhatikan pesisir, kita udah buktiin pegiat lingkingan sudah turun nah kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan pemerintah jadi hendaknya ada sinkronisasi, begitu juga dengan swasta dimana setiap perusahaan ada CSR dan kita harapkan pihak swasta bisa mendukung gerakan ini”. ujarnya

Beliau yang tulus dengan sukarela berharap ada regenerasi yang bisa meneruskan perjuangannya demi terciptanya pesisir yang aman dari abrasi.

“saya berharap ada regenaris dari gerakan ini, generasi yang tulus memperjuangkan lingkungan, Saya bikin bibit sekian ini pakai uang pribadi, dan bagi para pegiat lingkungan dan pecinta alam diperbolehkan ambil sepuasnya demi terciptanya hutan mangrove pesisir kita”.

Tutur Fakhrudin  yang merupakan salah satu Deklarator WALHI di Aceh dan saat ini merukan ketua  LSM PangLaot sekaligus menutup perbincangan dengan demosmagz.com .

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY