Cerita Fatahillah, Sultan Cirebon yang Bebaskan Jakarta dari Penjajah

945
ilustrasi fatahillah

 

Tokoh, Demosmagz.com – Fatahillah adalah seorang tokoh yang menaklukkan Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada jaman penjajahan di Indonesia. Beliau dikenal seorang senopati kerajaan Demak Bintaro, Fatahillah juga ditunjuk oleh Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon) sebagai pemimpin tertinggi gabungan pasukan tiga kesultanan yakni kesultanan Demak, Cirebon, dan Banten.

Fatahillah dilahirkan di Pasai tahun 1471, terlahir dengan nama Maulana Fadhillah, beliau keturunan Nabi Muhammad SAW ke 23 (dari golongan Sayyid atau Syarif atau Habib). Fatahillah adalah Putra Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghofur bin Zainul Alam Barokat bin Jamaludin Husein al-Akbar yang lebih dikenal dengan nama gelarnya yakni Shekh Maulana Jumadil Kubro.

Semasa kecil, Fatahillah berada di lingkungan kesultanan Pasai yang terkenal sangat alim dan menguasai ilmu-ilmu agama seperti ilmu adat (nahwu, shorof dan balaghoh), Fiqih, Usul Fiqih, Tafsir, Hadits dan juga Tasawuf. Kedudukan kesultanan Pasai terletak di jalur strategis yang menghubungkan dua pusat perdagangan yakni China dan India, tepatnya di selat Malaka. Sehingga  diperolehnya pendidikan kemiliteran terutama kemiliteran laut. Selain itu pendidikan ilmu-ilmu agama sangat ditekuninya.

Buah dari pendidikan yang ia jalani adalah menjadi seorang panglima tertinggi. Fatahillah juga sebagai anggota Walisongo generasi ke IV dikarenakan beliau memiliki bekal agama yang kuat. Kemudian saat berusia 24 tahun atau pada 1495, Fatahillah merantau ke kesultanan Malaka saat kepemimpinan Sultan Mahmud Syah yang juga sahabat ayahnya (Mahdar Ibrahim). Sehingga diperolehnya gelar Tumenggung.

Saat perjalanan berlaryar di selat Malaka, Fatahillah sangat piawai dalam menghalau para bajak laut yang kebanyakan pelaut-pelaut dari China. Fatahillah mendapat gelar “Laksamana Khoja Hasan” dan menggantikan Laksamana Hang Tuah setelah lengser. Dalam melaksanakan tugasnya selama 15 tahun, Fatahillah mampu mengamankan selat Malaka, artinya jalur yang di gunakan untuk perniagaan aman sehingga menguntungkan bagi kerajaan.

Fatahillah kembali ke Pasai tahun 1501, setahun setelahnya Malaka berhasil di duduki oleh Portugis. Kemudian pasukan Demak yang dipimpin Pati Unus tahun 1512/1513 ikut menyerang Portugis untuk membantu Malaka, termasuk Fatahillah ikut berperang. Namun pasukan Demak mengalami kekalahan karena kurang persiapan dan kehabisan perbekalan sehingga mundur.

Fatahillah tidak ikut mundur kembali ke Demak, melainkan kembali ke pasai. Disana, para pejabat kesultanan maupun para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat ramai membicarakan kegagalan Demak, selain itu mereka juga khawatir jika Portugis juga menyerang sampai ke Pasai. Setelah di analisa oleh mereka, kurangnya teknologi persenjataan juga merupakan salah satu penyebab kegagalan pasukan Demak. Karena, Bangsa Eropa lebih maju dalam hal persenjataan. Sehingga Fatahillah merantau ke  Nasrabat  India , negara leluhurnya untuk mempelajari teknologi pembuatan senjata api (meriam) dan strategi perang. Disana ia menggunakan nama marganya sesuai yang dianjurkan sehingga menjadi Fadhillah Azmatkhan. Beliau lebih populer dengan nama Fadhilah Khan dan orang Portugis melafalkannya menjadi Falatehan. Tak cukup di India untuk belajar membuat senjata, beliau pun melanjutkan ke Turki untuk mempelajari strategi perang.

Pada tahun 1519, Fatahillah hendak kembali ke Pasai, namun selat malaka dan daerah Pasai telah dikuasai Portugis (kemudain tahun 1525 wilayah pasai berhasil direbut oleh Kesultanan Aceh Darussalam). Dikarenakan kapal yang ditunggangi oleh fatahillah tidak boleh masuk, beliau kemudian menuju Palembang lalu ke Cirebon untuk menemui pamannya (Sunan Gunung Jati).  Lalu diajaknya Fatahillah ke kesultanan Demak Bintaro menemui Sultan Pati Unus, karena mengingat Demak akan melakukan serangan ke dua. Kemudian Fatahillah diangkat sebagai wakil pimpinan pasukan tertinggi karena beliau datang dengan membawa teknologi perang yang baru. Saat Perang berlangsung, Pati Unus (pimpinan pasukan perang) wafat sehingga di ambil alih Fatahillah dan segera mundur dalam perang.

Setelah kegagalan perang yang cukup besar tersebut, akhirnya atas saran Sunan Gunung Jati untuk merubah strategi dengan memancing Portugis keluar dari Malaka. Kebetulan kerajaan Pajajaran mengundang Portugis untuk membuat Benteng di Sunda Kelapa (satu-satunya pelabuhan milik kerajaan Pajajaran yang tersisa setelah Cirebon dan Banten menjadi kerajaan Islam).

Akhirnya, dengan teknologi senjata dan strategi perang, Fadhillah Khan atau Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis pada tanggal 22 Juni 1527 M. Pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Jakarta dan Fadhillah Khan memperoleh gelar yakni Fatahillah yang artinya kemenangan dari Allah. Kemudian setelah wafatnya Sunan Gunung Jati, Fatahillah menggantikan kedudukannya menjadi Sultan Cirebon.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY