Bus Ekonomi yang “Tak Ekonomis”

567

ilustrasi bus
Demosmagz.com – Sejak bertahun-tahun yang lalu, saya ogah menggunakan bus untuk perjalanan antar kota. Biasanya, saya lebih memilih menggunakan kereta api untuk perjalanan tersebut. Tapi semalam (9/9/2016), saya terpaksa menggunakan bus ekonomi, rute Jakarta – Cirebon. Entah kenapa tiap kali saya menggunakan bus ekonomi, selalu saja menyisakan pengalaman yang menyebalkan, sangat-sangat mengesalkan. Tak pernah ada pengalaman yang baik saat saya naik bus ekonomi. Rasanya, saya seperti dikutuk untuk mengalami hal yang tak mengenakkan saat naik bus-bus terkutuk itu.

Akumulasi kekesalan saya terhadap bus ekonomi ini akhirnya membuncah, sudah tak bisa ditolerir! Kenapa tak bisa ditolerir? Inilah tiga alasan yang membuat saya menganjurkan anda untuk beralih ke transportasi lain selain bus sebelum mereka (pengusaha dan awak bus) memperbaiki pelayanannya ke publik.

Pertama, soal tarif bus yang tidak wajar dan seenaknya.

Bayangkan saja, tarif bus ekonomi dari Jakarta ke Cirebon yang normalnya Rp 50.000 – Rp60.000, saat perjalanan pada Jumat malam, (9/9/2016) tiba-tiba naik menjadi Rp130 ribu! kenaikannya lebih dari 100 persen. Angka ini hanya terpaut Rp10 ribu saja dibandingkan tarif tiket kereta api kelas eksekutif, dan lebih mahal Rp 40.000 dari tarif Cirebon Ekspress kelas Bisnis yang jelas-jelas jauh lebih nyaman, cepat dan manusiawi.

Lebih dari 10 menit saya berdebat tak mau menyerahkan mahar sebesar itu ke kondektur. Karena bagi saya, ini lebih mirip seperti pemerasan ketimbang transaksi jasa transportasi yang adil. Setelah berdebat panjang dan tawar menawar, akhirnya saya mengalah untuk menyerahkan mahar Rp 100.000. Tentu saja dengan bonus hati yang tak ikhlas. Rupanya, raut muka serupa dengan saya, juga saya dapati pada seluruh muka-muka penumpang di dalam bus itu. Bedanya, saya punya cara tersendiri untuk menghentikan praktik merugikan yang telah berlangsung bertahun-bertahun tersebut, Salah satunya dengan tulisan ini.

Jika dikalkulasikan, andai penumpang bus berkapasitas 60 orang itu mengangkut 70 orang saja, dengan rata-rata mereka membayar Rp100.000, maka seperjalanan bus itu sudah mengantongi Rp 7.000.000. Dikurangi biaya bensin, ongkos jalan tol, dan retribusi ‘halal’ dan ‘tak halal’- sebut saja Rp 1.000.000 , maka awak bus ini sanggup mengantongi Rp 6.000.000 dalam seperjalanan. Kemudian jika bus ini dalam sehari melakukan dua kali perjalanan pergi-pulang (4 kali perjalanan), bus ini sanggup mengantongi 24 juta. Setelah dikurangi setoran bus Rp 3.000.000 perhari, maka bus ini untung Rp 21.000.000. Ya, angka itu dalam sehari yang dibagi untuk 3-4 orang awak bus. Angka yang fantastis, bukan? Ini baru menghitung satu bus, belum mengkalkulasi seluruh bus yang merajai jalan raya pantura yang berasal dari puluhan armada. Setiap hari, ratusan juta uang para musafir yang dihisap oleh mereka: “kapitalis pantura”.

Pelbagai dalih dan alasan kondektur bagi saya tetap tidak rasional untuk menaikkan tarif semahal itu. Alasannya kondektur saat itu tentu saja soal momen lebaran Idul Adha. Lho, bukankah sudah ada aturan yang mengatur tentang batas tarif atas dan bawah untuk angkutan umum saat lebaran? Ah, tentu saja sanggahan seperti itu hanya lewat bagi mereka para awak bus.

Konyolnya lagi, awak bus tersebut menyerahkan karcis tiket atas nama bus yang tidak sesuai, Tentu saja saya menolak karcis tersebut. Tetapi kondektur berkilah bahwa dirinya kehabisan tiket bus yang sebenarnya. Oke, daripada saya tak mendapat bukti sahih yang dapat saya foto, akhirnya karcis absurd itu saya terima.

Kedua, soal kondisi bus yang tak layak.
ilustrasi

Bus yang saya tumpangi, terus memaksa menaikkan penumpang meski telah sesak. Saya paham ini kebiasaan –yang dianggap lazim- oleh bus-bus terkutuk itu. Maka tak heran jika setelah anda menumpang bus ekonomi, niscaya akan mendapatkan oleh-oleh khas paket pegal linu, masuk angin dan kantong cekak.

Betapa tidak, saat anda naik bus ekonomi, anda akan terhimpit oleh jarak antar kursi yang sangat sempit, ditambah banyaknya barang-barang penumpang yang terdampar di sana-sini, mengisi tiap sudut bus yang kosong. Bersebelahan dengan pantat berbagai ukuran. Plus bonus bau kentut dan keringat masam yang tak bertanggung jawab. Terlebih, dalam perjalanan semalam saya tak tahan untuk berdiam apatis membiarkan kakek tua didepan saya, yang terpaksa berdiri payah –karena tak mendapat kursi- sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Cirebon. Saya pun menyerahkan kursi saya tanpa syarat! Dengan ikhlas.

Jika melihat kondisi begitu, dimana letak unsur manusiawi-nya? Jelas-jelas hoax kalau anda mengatakan bus-bus terkutuk itu sangat mengakomodir hasrat penumpang. Jika memenuhi syahwat ekonomi awak bus dan segala pendukungnya, mungkin iya. Oleh karena itu, saya dengan jelas mengatakan kepada diri saya sendiri, stop menumpang bus sebelum pelayanannya membaik. Terserah anda mau ikut mengamini, atau tidak.

Dalam hati di perjalanan itu saya terus bergumam, siapa yang patut dan sanggup memperbaiki kondisi ini?

Ketiga, bus ekonomi sangat tidak aman.
ilustrasi
Suatu malam di pertengahan tahun 2011 silam, saya mengalami pengalaman buruk terkait tidak amannya menggunakan bus AKDP. Di terminal Pulogadung Jakarta, saya pernah bergulat secara fisik dengan calo-calo yang memaksa saya membeli tiket tiga kali lebih mahal dari tarif biasa. Untungnya, saya masih punya keberanian untuk secara waras meladeni intimidasi para calo tersebut. Tentu saya kalah, Insiden tersebut diakhiri dengan larinya saya ke pos polisi Pulogadung. Saya beruntung kali itu, meski terbilang nekad karena melawan preman. Sebab, saya menyaksikan ada beberapa penumpang yang menangis karena diperas oleh oknum calo-calo tersebut. Herannya, polisi yang berjaga saat saya bercerita tentang kejadian itu, diam saja sambil asyik menonton sinetron klenik khas TV Indonesia.

Lain persoalan di terminal, lain lagi permasalahan di atas bus. Ancaman terjadinya tindak kejahatan yang dilakukan oleh copet, penodong, dan pemalak yang bertopeng sebagai pengamen juga kerap menyambangi penumpang-penumpang lugu nan tak berdosa. Saya pernah menjumpai pengamen (saya bingung menyebutnya apa) setengah mabuk yang berpidato sambil menyayat tangannya dengan silet, ya silet! Herannya, silet itu tak membuatnya berdarah. Setelah itu, tentu saja tak ada penumpang yang tidak memberinya receh. Kalaupun ada yang tidak memberinya uang, mereka akan menghadapi resiko paling baik, diserapahi dan dipelototi. Nah, jika penumpangnya tidak terima, selanjutnya dia akan menerima resiko paling buruk, intimidasi fisik.

Belum lagi saat kembali kilas balik pada berita investigasi yang pernah dilakukan satu televisi swasta nasional beberapa tahun lalu. Televisi itu memaparkan soal praktik berbahaya para pedagang asongan yang mencampur makanan-makanan khas musafir pantura, dengan bahan-bahan kimia berbahaya.

Soal terakhir ini yang menjadi alasan kuat saya enggan membeli kudapan diatas bus. Bukan karena saya tak simpatik dengan pedagang asongan, karena saya yakin tidak semua asongan seperti itu. Karena tak lucu jika suatu saat tiba-tiba muncul berita yang berjudul pemuda mati keracunan setelah melahap sebuah tahu.

Selepas membuang hajat melalui tulisan ini, semoga dapat tepat mengenai aparat pemerintah yang bertugas untuk menjamin tersedianya moda transportasi yang murah, nyaman, dan aman. Karena tanpa ada campur tangan bapak-bapak berseragam, cengkeraman tangan para pengusaha, oknum awak bus dan preman-premannya, akan tetap hinggap di atas kepala kami penumpang ‘kelas’ ekonomi. Telah cukup banyak uang yang kami dapatkan dengan susah payah untuk nafkah, dibakar habis di jalanan yang tak memperlakukan kami sebagai manusia.

Satu-satunya manfaat yang dapat saya petik saat menaiki bus ekonomi adalah memahami penderitaan dan kondisi rakyat yang sesungguhnya terjadi di bidang transportasi umum.

Bagaimana, anda masih toleran terhadap bus ekonomi?

 

Penulis

Sunyata Kurniawan T. Arief

Musafir pantura

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY