Benarkah Eksistensi Basa Cerbon Terancam ?

649
Salah satu naskah kuno

Cirebon, Demosmagz.com – Perkembangan bahasa daerah terutama di Cirebon mulai mengalami penurunan, hal tersebut di lihat dari bahasa ibu yang digunakan khususnya di daerah Cirebon cenderung berbahasa Indonesia.

Secara sosio linguistik, bahasa yang dituturkan berdasarkan status sosialnya. Jika menilik kepada sejarah di Cirebon, bahasa yang digunakan petani, nelayan, bangsawan, memiliki perbedaan. Kemudian misalnya seorang santri juga memiliki ke-khasan tersendiri. Di Cirebon, karena adanya keraton yang identik dengan bahasa orang-orang yang berpendidikan sehingga dikenal dengan tingkatan bahasa.

“Bahasa itu tergantung status sosial, Seperti di Cirebon, karena terdapat keraton, rakyat biasa kalau kesana bahasanya halus, sementara orang keraton sendiri berbahasa kasar (sama dengan keseharian rakyat biasa). Itu karena ada status sosialnya, padahal bahasa nggak ada status sosialnya.” Jelas Rafan S, Filolog.

Di masa sekarang, bahasa Cirebon mulai banyak ancaman, masa dimana sedang mencari posisi atas bahasa Indonesia. Dilihat dari banyaknya bahasa ibu yang digunakan adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah, baik bahasa sunda, jawa, atau bahasa Cirebon.

“Bahasa Cirebon sedang mencari posisi atas bahasa indonesia, bahasa ibu yang digunakan mulai kepepet bahasa indonesia. Orang sunda justru tidak menuturkan bahasa sunda kepada anaknya, begitupun orang jawa. Bahkan keturunan Tionghoa yang berada di Cirebon tidak semua bisa bahasa Mandarin. Karena kebanyakan berbahasa indonesia.” Ungkap Rafan S, seorang Filolog yang juga mengajar bahasa lan sastra Cirebon di salah satu Perguruan Tinggi Negeri.

Transkip babad cirebon

Ancaman bahasa Cirebon juga dikarenakan kemajuan sosialisasi bahasa indonesia, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa yang komunikatif, egaliter, bahasa pergaulan dan lebih keren di banding bahasa daerah.

“Kemajuan sosialisasi bahasa Indonesia juga menyulitkan perkembangan posisi bahasa daerah. Bahasa daerah itu mengakar pada tradisi, pada etika dan bahasa, sementara bahasa indonesia itu egaliter atau sama rata.” Ucapnya saat ditemui demosmagz.com pada (12/10).

Beliau pun mengatakan bahwa bahasa Cirebon harus di lestarikan karena bahasa di dalam manuskrip-manuskrip kuno di tulis dengan bahasa cirebon.

“Orang-orang dulu menulis sistem pengetahuan yang ada di Cirebon, seperti di manuskrip-manuskrip kuno menggunakan bahasa itu. kalau misalnya bahasa Cirebon hilang, bisa-bisa bahasa yang ada di manuskrip Cirebon yang jumlahnya ribuan itu tidak bisa dibaca orang.” Ujarnya.

Adapun cara efeketif menurut pria yang akrab di sapa opan, untuk melestarikannya adalah dengan pendidikan dan sering diucapkan sehari-hari sebagai bahasa ibu.

Selama ratusan tahun, bahasa Cirebon terbentuk di wilayah tatar Sunda. Bahasa ini erat kaitannya dengan lahirnya islamisasi oleh Sunan Gunung Jati dan perkembangan kerajaan di wilayah Cirebon. Oleh sebab itu, bahasa ini banyak dipakai di daerah Pesisir hingga Banten.

“Bukan hanya Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, Banten. Kebetulan itu wilayah dominasi penyebaran islam oleh Sunan Gunung Jati. Perkembangan bahasa Cirebon hampir sama dengan perkembangan islamisasi di wilayah tatar Sunda.” Ucapnya.

Pergerakan tersebut berada di pesisir utara, kemudin bahasa itu berkembang dengan pengaruh-pengaruh tertentu. Lalu pada jaman kolonial, saat kemerdekaan, masing-masing daerah setelah memiliki otonomi daerah ingin mengembangkan daerah masing-masing. Sehingga muncullah perbedaan bahasa seperti di Banten dengan bahasa sunda kasar, di Jakarta dengan bahasa melayu betawi, Karawang dengan bahasa Sunda, dan di Bekasi dengan bahasa Cirebon.

“Karena setelah otonomi daerah, bahasa itu dinamakan berdasarkan ego masing-masing, padahal sama. Bahkan di Indramayu yang dulu pernah mendukung penamaan bahasa Cirebon sekarang namanya bahasa Indramayu.” Ujarnya.

Sederhananya,  bahasa yang di ucapkan sehari-hari oleh orang Cirebon tidak dimengerti oleh orang-orang Jawa. Setelah ada perkembangan bahasa selama ratusan tahun, adanya perkembangan bahasa lokal dan karena pernikahan silang serta masih banyak lagi.

Singkat sejarah munculnya bahasa Cirebon di wilayah tatar Sunda karena dari masa kecilnya pangeran Cakrabuana. Ia dan adiknya pergi ke Cirebon untuk mendalami islam dan juga menghindari konflik keluarga karena beda agama. Kemudian pangeran cakrabuana menikahi putri sangiang danuarsi, dari keturunan Jawa. Kemudian Ki Gedeng Alang seorang keturunan Dieng dan istrinya Sunda, mulailah ada percampuran.

Sejarah lengkapnya sudah dibahas di artikel Sejarah ‘Basa Cerbon’: Warisan Jati Diri Yang Mesti Lestari

Kumpulan naskah kuno cirebon

Kemudian jika dilihat dari komposisi penduduk Lemahwungkuk, penduduk Sunda dan Jawa adalah yang paling banyak, sekitar 100 lebih. Sedangkan orang India, Cina, Persia, Arab jumlahnya hanya puluhan. Diperkuat lagi oleh salah satu istri Sunan Gunung jati , ratu Mastatasari dari malang dengan membawa pengawal dan pasukan 500 pekerja. Pasukan tersebut membuat jalan raya, masjid agung dan beberapa bangunan suci. Mereka menetap hingga ratusan tahun dan menikah dengan penduduk lokal.

Begitupula tahun 1527, 500 pasukan lainnya dari gabungan Cirebon Demak ketika menyerang Batavia, mereka menetap dan banyak yang tidak pulang. Kemudian pasukan yang di bawa Ki Ageng Bungkuk dari Banyuwangi. Dan pada tahun 1600 an, sultan agung membawa pasukan dari Mataram ketika ada konflik kompeni. Pasukan-pasukan yang dibawa banyak yang menikah dengan penduduk lokal dan juga menetap di Cirebon.(Ade)

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY