Belajar Seni Dari Ipon, Pelukis Nyentrik Dari Sukalila

361


Cirebon, Demosmagz.com – Apresiasi terhadap seni di Cirebon dapat dikatakan cukup bagus, salah satunya terhadap lukisan foto, karena setiap orang memiliki sifat narsisnya masing-masing. Begitulah kira-kira menurut Ipon, seorang pelaku seni lukis yang setiap harinya ‘mangkal’ di Sukalila.

Area jalur hijau milik Pemerintah Daerah itu banyak dipakai pedagang mencari nafkah, Diantaranya mereka berjualan lukisan, figura, sendal dan menawarkan jasa. Seperti salah satunya Ipon seorang  pelaku Seni bergaya pop art handmade.

“Jalur hijau pertamanan milik Pemda kurang bisa dimanfaatkan sehingga dipakai berjualan.” Ujar Ipon.

Diantara deretan pedagang-pedagang lukisan yang ada di samping kali sukalila, Ipon dan Miftah saja satu-satunya pelaku seni, karena biasanya para pedagang  lainnya mengambil barang “lukisan” dari Bandung.

Kios tersebut sudah 9 tahun didirikan oleh Miftah. Sedangkan Ipon baru 5 bulan bergabung karena sebelumnya ia merantau ke Bali dan tempat-tempat lainnya  untuk mengasah kemampuannya di bidang melukis. Meskipun sebagai pelaku seni, ia juga harus bisa berdagang.

Ipon seringkali menerima pesanan, seperti lukisan foto dan objek lainnya sedangkan Miftah menerima pesanan pembuatan mahar dan lukisan kaca. Tempat beroperasinya diberi nama “wali sanga art” karena mereka sama-sama orang Gunung Jati.

Sama seperti normalnya bekerja, mulai pukul 08.00 hingga sore pukul 15.00 mereka beroperasi, meskipun waktunya kadang-kadang tidak menentu karena bertemu klien dan sebagainya. Buka dan tutup suka-suka, mengerjakan pesanan lukisanpun yang penting memiliki mood baik dan harganya cocok.

Sekitar 5 sampai 6 jam Ipon menyelesaikan lukisan wajah yang dipesan, namun seringkali pesanan sudah mengantri untuk segera dibuat. Biasanya lukisan ukuran 12R BW dan figura dihargai sekitar Rp. 300.000. Seperti saat ditemui demosmagz.com pada (19/8), Ipon sedang mengerjakan lukisan wajah. Ia juga mengatakan ada orang yang memesan lukisan Nyi Roro Kidul namun belum dibuat.

“Dalam sebulan ini padat yang memesan, ada 10 – 15 pesanan, karena banyak yang menikah sehingga banyak yang memesan untuk mahar, biasanya tiap bulan ada sekitar 5 yang memesan untuk melukis objek.” Ucap Ipon.

Keterampilan melukis dibutuhkan kemauan dan latihan meskipun bakat melukis diibaratkan hanya 1 % dimiliki. Seseorang akan menjadi ahli karena sering berlatih dan kerja keras.

“Kelemahan dalam melukis harus dijadikan kekuatan, yang penting punya kemauan, karena setiap orang memiliki karakter melukis masing-masing sehingga hasilnya pasti berbeda, jangan lihat karya orang lain saja, tapi lihat proses berkeseniannya.” Ujarnya yang juga pernah mewakili Cirebon dalam ajang pameran bersama lima kota lainnya.

Ipon juga banyak merantau ke kota-kota dan hampir 2 tahun di Bali untuk mengasah kemampuan dibidang seni melukis. Menurutnya di Bali, barometer seninya itu tingkat internasional. Disana ia melukis kemudian mengirim atau mengisi ke kios-kios.

Berawal dari kegemarannya melukis sejak SMP, Ipon tertantang untuk terus belajar, ia pernah dihukum oleh salah satu guru karena ia melukis di dalam kelas padahal bukan pelajaran seni dan budaya, namun lukisan tersebut justru disimpan oleh gurunya hingga sekarang.

Selain itu Ipon juga adalah seorang seorang penulis lepas. Pegiat bahasa dan sastra Cirebon (LBSC). Juga Anggota KITLV Press (Koninklijk Instituute Voor taal-Land-en Volkenkunde) (Ade)

TIDAK ADA KOMENTAR