Batik Lem, Inovasi Orang Cirebon Dalam Membatik

405
Batik Lem dinilai lebih mudah di pelajari anak sekolah

Demosmagz.com – Batik Indonesia terkenal dengan batik tulis, batik sendiri memiliki sejarah panjang dan terus berkembang dengan tidak menghilangkan unsur ke-khasan, seni, motif, dan budaya nya. Cirebon sendiri merupakan salah satu tempat di Indonesia yang dapat dikunjungi sebagai wisata belanja batik karena terdapat perkampungan batik, letaknya di Trusmi, plered.

Selain wisata belanja, Trusmi juga dijadikan wisata edukasi karena banyak dikunjungi untuk keperluan pembelajaran  mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Selain itu, biasanya siswa mempraktekkan bagaimana cara membatik yang dilaksanakan di sekolah.

Baru-baru ini, muncul inovasi dalam teknik membatik, dikenal dengan batik lem. Ide tersebut muncul dari seorang seniman rupa Cirebon bernama Ade Suriyadi. Berawal dari ketika beliau menjadi guru pendamping dalam stand expo pameran pendidikan yang dilaksanakan Dinas Pendidikan di alun-alun kota Cirebon.

“Waktu itu saya menggantikan guru yang sedang cuti hamil untuk mendampingi siswa SMP Penabur di sebuah stand sekitar 2008. Hanya stand SMP Penabur yang melakukan kegiatan yaitu membatik, saya pun nggak ngerti ngebatik hanya mendampingi saja, sedangkan stand lain hanya memamerkan piala-piala.” Ujarnya yang juga diminta mengajar seni di SMP Penabur.

Pada acara itu, pelajar di wajibkan mengunjungi pameran dan biasanya guru seni rupa memberikan tugas berupa  laporan bahwa siswa tersebut telah berkunjung ke acara pameran. Ketika beberapa anak SD mengunjungi stand SMP Penabur untuk melihat cara membatik, disusul dengan beberapa pertanyaan, Ade Supriyadi selaku guru pendaming hanya menjawab seadanya.

“Saya jawab seadanya, dan mungkin siswa saya waktu itu grogi menjawab, ketika berdiri, malam (salah satu bahan untuk membatik) dalam wajan yang sedang dipanaskan tumpah, anak-anak yang sedang menonton hanya terkena sedikit, tapi karena panas, mereka gosokkan sehingga kulit mengelupas disitu saya sangat panik, nggak tau harus melakukan apa, sedangkan ada sekitar 8 anak menangis. Rame kan disitu, Nah dari situ saya berfikir bagaimana mendemokan cara membatik tapi bisa aman bagi anak-anak. Apakah yang menonton harus jauh-jauh atau bagaimana, saya nggak langsung nemu ide saat itu, hanya saja dari kejadian itu saya terus berfikir.” Ucapnya dengan logat khas Cirebon.

Beliau terus berfikir bagaimana caranya merubah teknik membatik agar mudah diterapkan oleh anak-anak. Sambil melakukan uji coba, pada tahun 2012 ia mengikuti pelatihan di Yogyakarta dengan membawa hasil temuannya, saat itu ia bertanya apakah ini bisa layak di sebut batik, dan instruktur menjawab itu adalah batik namun masih harus disempur nakan. Ade juga bertanya kepada ketua asosiasi batik dan juga pengrajin batik di Cirebon, dan jawabannya pun sama, itu adalah batik.

Batik lem bisa dilakukan di media lain seperti kaos oblong, dan tak melulu kain mori, sepatu berbahan kanvas, bahkan kayu. Memunculkan inovasi beliau jalani dengan serius meskipun dalam pelaksanaanya sering di tunda karena memprioritaskan pesanan karena beliau seorang seniman.

“Saya punya percetakan juga, jadi waktu itu saya eksperimen batik lem pakai pewarna sablon. Beberapa kali di coba dari 2008, saya nggak mengerti tentang batik karena saya seniman membuat lukisan,patung, topeng, sovenir, bisa di bilang saya itu multidimensi seniman, ditahun 2017 udah mulai ketemu.” Lanjutnya.

Teknik batik lem lebih mudah di praktekkan oleh siswa, karena tidak memerlukan malam yang dipanaskan. Dengan campuran tepung tapioka dan lem glukol untuk mengurangi bau asam dari tepung. Kemudian di campur juga dengan kopi, Beliau juga fikirkan dan mencoba bagaimana pengganti canting.

“Saya gunakan botol obat tetes mata, ujungnya pakai cotton bud, tapi gagal kemudian akhirnya sampai bisa ketemu canting yang tepat, mudah kaya spidol, tebal tipisnya pun sudah ada ukurannya, di 2017 bahan-bahan juga sudah mulai ketemu.” Ucapnya.

Berawal dari keinginan untuk mengajarkan batik kepada siswa-siswa, tapi beliau merasa kalau di praktekan di sekolah cukup sulit, perlu kompor dan nglorod yang tidak bisa dilakukan di sekolah. tetapi batik lem sendiri memiliki kekurangan yakni dalam membuat klowong atau outline dan isen-isen (isi gambar) membutuhkan waktu kering lebih lama.

Ade Supriadi, Pencetus Batik Lem

“Pasti ada kekurangannya, tapi ketika mempraktekkan di kain sebesar sapu tangan, kemudian dengan motif yang sedikit itu bisa dilakukan dengan 5 menit. Dicanting, dikasih warna, di kasih penguat. Intinya kan demonstrasi, saya berinovasi karena saya guru, saya ingin ngajar di sekolah, nyaman, aman. Untuk di sekolah bagusnya di gosol (warna muda) karena lebih cepat, di lem, di celup warna, terus di pengikat, itu udah jadi batik. Tetapi kalau pakai pewarna naptol itu gabisa karena harus menunggu kering kalau mau di celup.” Katanya.

Perbedaan mendasar antara batik dan batik lem adalah dari bahan malam dan bahan lem. Di tahun ini, beliau bersama komunitas kuno kini nanti akan mensosialisasikan batik lem di event internasional di Bali kemudian akan mengajukan hak paten.

“Saya mohon maaf bukan merusak teknik membatik, tujuannya untuk memermudah siswa mengenal batik, ketika di praktekkan di kelas tidak kerepotan, kalau lem mengotori lantai juga mudah dibersihkan. Harapannya bisa memerkenalkan batik lem, inovasi dari orang Cirebon, minimal Cirebon bisa diakui memiliki ide-ide kreatif di bidang lain.” Ungkap Ade Supriyadi.(Ade)

Baca Juga : Menikmati Hidup Lewat Seni

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY