Agar Anak Mandiri, Hindari Pola Asuh Over Protective

222


Demosmagz.com – Pola pengasuhan anak yang terlalu mengekang, dimana orang tua sangat memperhatikan dan sangat melindungi anak atau yang dikenal pada akhir 1960an yaitu “helicopter parent”. Di era perkembangan teknologi yang pesat ini, orang tua dapat mengawasi anak dari jarak jauh, memberi arahan kapan saja dan dimana saja.

Namun dalam buku How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kids for Succes, penulis Julie Lythcott-Haims menilai pola asuh ini perlu dipertimbangkan jangka panjangnya kemudian mengajak para orang tua agar anak nantinya bisa merawat diri mereka sendiri.

Ia merasakan langsung pengalaman dengan pola asuh helicopter-parenting ketika menjabat menjadi dekan di Universitas Stanford. Anak-anak di atas kertas sangat pintar dan berhasil, tetapi banyak yang tidak bisa merawat dirinya karena mereka secara terus menerus meminta bantuan dari orang tuanya dalam menyelesaikan masalah atau ketika memutuskan sesuatu.

Ketika anak berusia 8 atau 10 tahun, Julie menyadari bahwa seharusnya anak tersebut sudah bisa memotong sendiri makanannya, tugas orang tua hanya mengajarkan. Karena menurutnya orang tua yang memotong-motong daging untuk makanan anaknya maka masih dinilai kurang baik.

Terminologi ini mengantarkan orang tua menjadi over parenting, menurut Julie ada tiga bentuk diantaranya over protective atau terlalu melindungi. Orang tua menilai dunia ini terlalu menakutkan dan tidak aman sehingga secara ketat anak-anak perlu dilindungi. Kemudian kedua, over directive, yakni orang tua meyakini bahwa ia tahu hal terbaik yang harus dilakukan dan cenderung memaksakan anak untuk patuh. Bentuk ketiga adalah concierge, yaitu berusaha agar kehidupan anaknya menjadi mudah bahkan sangat mudah, misalnya membangunkan anak-anak, mengingatkan hal-hal tertentu agar anak tidak akan melupakan apapun, membantu atau bahkan mengerjakan PR nya.

Dengan begitu, Julie membedakan manfaat jangka pendek dan jangka panjang dari ketiga bentuk  pola asuh tersebut.

Ketika orang tua menemani anaknya bermain di taman, lalu tergelincir atau jatuh, orang tua menangkap anak tersebut agar tidak jatuh menyentuh tanah, maka lutut atau bagian tubuh tidak akan memar dan terluka. Kemudian, orang tua membuatkan PR anaknya, maka nilai disekolah akan lebih baik. Hal tersebut merupakan manfaat jangka pendek. Anak tidak akan belajar bagaimana ia menjaga dirinya di taman bermain jika ia tidak terjatuh beberapa kali. Anak juga akan tergantung mengandalkan bantuan orang tuanya dalam mengerjakan PR jika orang tua senantiasa membuatkan PR nya. Sehingga anak kurang mampu dalam memperbaiki nilai akademisnya serta kurang mempersiapkan mereka menjadi pelajar yang gigih dan berhasil di kehidupannya.

Kita harus mengajarkan anak-anak kita bagaimana membela diri mereka sendiri, juga ajarkan mereka menyeberang jalan, menyiapkan sarapan, berhenti membuatkan PR, dan mengingatkan bagaimana mereka meletakkan barang di dalam tas karena nanti tas tersebut berubah menjadi tas kerja. Tuntun anak-anak kita untuk membangun keahlian mereka. Buatlah mereka mampu untuk merawat diri mereka sendiri sehingga mereka siap menjadi dewasa. (ade)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY